Freeport Targetkan Tambang Kucing Liar Mulai Produksi pada 2029
PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan tambang Kucing Liar mulai produksi pada 2029. Tambang tersebut berada di kawasan pertambangan Grasberg, Papua Tengah.
“Kami sedang mempersiapkan tambang Kucing Liar yang lokasinya berdekatan (dengan kawasan tambang saat ini) bisa mulai ditambang 2029,” kata kata Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII, Selasa (14/7).
Berdasarkan laporan induk perusahaan mereka yakni Freeport McMoran (FCX), PTFI sudah mulai mengembangkan tambang tersebut sejak 2022. Sepanjang 2025 PTFI telah menyelesaikan berbagai studi untuk mengevaluasi potensi perluasan area penambangan (footprint) di Kucing Liar. Tambang tersebut sebelumnya dirancang untuk beroperasi dengan kapasitas jangka panjang sebesar 90.000 metrik ton bijih per hari.
Hasil studi mengidentifikasi peluang ekspansi berbiaya rendah untuk meningkatkan kapasitas desain Kucing Liar menjadi 130.000 metrik ton bijih per hari serta menambah cadangan Kucing Liar sekitar 20%.
Berdasarkan estimasi awal PTFI, jumlah cadangan tambang Kucing Liar mencapai 8 miliar pon tembaga dan 8 juta emas. Tambang ini diperkirakan dapat diproduksi hingga 2041. Umur tambang ini juga bisa bertambah seiring dengan berlakunya hak operasi PTFI.
“(Kucing Liar) ini untuk menggantikan (peran) tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang produksinya mulai merendah. (Adanya Kucing Liar) kestabilan atau kelangsungan penambangan dengan jumlah 220 ribu ton bijih per hari bisa dilanjutkan,” ujarnya.
FCX menulis pada saat beroperasi penuh, jumlah rata-rata produksi tahunan Kucing Liar diperkirakan mencapai sekitar 750 juta pon tembaga dan 735 ribu ons emas.
Hingga 31 Maret 2026, PTFI telah mengeluarkan sekitar US$ 1,3 miliar untuk pengembangan Kucing Liar. Selain itu, investasi modal tambahan diperkirakan mencapai sekitar US$ 4 miliar hingga 2033, atau rata-rata sekitar US$ 0,5 miliar per tahun.
Produksi Emas dan Tembaga Kuartal I 2026
FCX sebelumnya melaporkan produksi emas dan tembaga PTFI menurun pada kuartal 1 2026. Penurunan produksi dipengaruhi oleh insiden longsor yang terjadi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025.
Longsor ini terjadi di salah satu dari lima blok produksi di GBC, tetapi mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung produksi blok lain.
Pada tiga bulan pertama jumlah produksi emas PTFI sebanyak 92 ribu ons, turun 67,61% dibandingkan periode yang sama pada 2025 mencapai 284 ribu ons. Selain emas, penurunan produksi juga terjadi pada komoditas tembaga.PTFI memproduksi 95 ribu pon tembaga pada kuartal 1 2026, turun 67,91% dibandingkan periode yang sama pada 2025 mencapai 296 ribu pon tembaga.
Tak hanya produksi, penurunan kinerja juga terjadi pada jumlah penjualan emas dan tembaga. Volume penjualan konsolidasi PTFI sebesar 82 juta pon tembaga dan 116 ribu ons emas pada kuartal I 2026.
Angka itu lebih rendah dibandingkan volume penjualan kuartal I 2025 yang mencapai 290 juta pon tembaga dan 125 ribu ons emas.
“Penurunan ini mencerminkan tingkat operasi yang lebih rendah setelah insiden aliran lumpur pada September 2025,” kata FCX dalam laporan perusahaan dikutip Jumat (24/4).