Mangkrak Hampir 3 Dekade, Proyek LNG Abadi Blok Masela Diresmikan Prabowo Besok
Proyek LNG Abadi Blok Masela senilai sekitar US$20 miliar atau lebih dari Rp 340 triliun akan resmi memasuki tahap konstruksi pada Kamis (16/7). Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan groundbreaking proyek yang telah ditunggu hampir tiga dekade tersebut di Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengonfirmasi rencana peresmian itu.
“Setelah bertahun-tahun mangkrak alhamdulillah sekarang bisa beroperasi, meksipun baru groundbreaking,” kata dia gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Rabu (15/7).
Menurut dia, dimulainya proyek ini merupakan prestasi bersama-sama seluruh masyarakat. Presiden Prabowo akan mengikuti peresmiannya besok. Namun, ia belum memastikan kehadiran presiden secara langsung atau melalui daring.
“Besok, Kamis. Nanti kita lihat masih kita koordinasikan (hadir langsung atau tidak),” kata dia.
Seremoni itu menandai awal pembangunan setelah proyek hulu migas raksasa itu menanti realisasi selama hampir 27 tahun. Groundbreaking menandai dimulainya pembangunan fisik fasilitas pengolahan gas alam cair (onshore LNG) yang menjadi bagian utama Proyek Abadi Masela.
Proyek ini bermula sejak tahun 1998 saat era Presiden BJ Habibie, saat kontrak bagi hasil alias Production Sharing Contract (PSC) Blok Masela sudah ditandatangani INPEX Corporation selaku operator Blok Masela dengan pemerintah Indonesia. Demikian, nyaris tiga dekade sejak kontrak ditandatangani, proyek ini belum juga beroperasi dan menghasilkan minyak serta gas bumi.
Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai sekitar US$20 miliar atau sekitar Rp340 triliun (asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS), menjadikannya salah satu proyek hulu migas terbesar yang saat ini dikembangkan di Indonesia.
Proyek LNG Abadi Masela mencakup dua train likuidasi LNG di darat dengan total kapasitas produksi 9,5 juta metrik ton per tahun (MTPA). Selain itu, proyek akan menyalurkan gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk kebutuhan domestik serta menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari (BCPD).
Proyek ini dioperasikan dengan skema konsorsium INPEX, Pertamina dan Petronas. Sebagai proyek yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), percepatan pembangunan Blok Masela merupakan hasil koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, SKK Migas, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), dan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Dengan dimulainya pembangunan fisik pada Juli 2026, pemerintah menargetkan Proyek LNG Abadi Masela dapat mulai beroperasi (onstream) pada 2029.