Harga Minyak Capai US$ 97 per Barel, Pasar Cermati Kesepakatan Iran-Oman

Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
8/9/2026, 09.32 WIB

Harga minyak dunia mencapai US$ 97 per barel saat proses kesepakatan pengaturan Selat Hormuz yang dilakukan Iran dan Oman. Para pedagang tengah mencermati proses kesepakatan tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan produsen di Teluk Persia dengan pasar global. Dalam kondisi normal, seperlima pasokan migas melewati jalur tersebut.

Harga minyak Brent mencapai US$ 97,03 per barel pada pukul 09.26 waktu Singapura. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi US$ 92,43 per barel.

Harga Brent telah melonjak lebih dari 30% sejak konflik dimulai lebih dari enam bulan lalu. Meski demikian, harga tersebut masih jauh di bawah level tertinggi di atas US$ 126 per barel yang dicapai pada akhir April. Harga produk olahan seperti diesel bahkan naik lebih tinggi karena perang Rusia-Ukraina turut memperketat pasokan.

Iran dan Oman tengah berupaya meresmikan pengaturan pengelolaan Selat Hormuz dengan mengenakan biaya transit. Hal ini bertentangan dengan AS yang menginginkan Selat Hormuz kembali ke kondisi sebelum perang sebagai jalur perairan yang dapat dilalui secara bebas.

Terkait pengelolaan Hormuz, Iran menyebut kesepakatan tersebut akan segera tercapai. Pada tahap awal, kesepakatan ini mencakup rute pelayanan aman sementara.

Pertempuran antara AS dan Iran yang kembali berlangsung dalam sepekan terakhir telah mendorong harga minyak berjangka naik karena kekhawatiran terhadap gangguan yang lebih besar pada arus energi melalui Selat Hormuz. 

Kilang-kilang minyak Cina baru-baru ini meningkatkan pembelian minyak, mendorong kenaikan harga minyak mentah dari Afrika, Kanada, dan Amerika Latin. Namun, peningkatan tersebut belum tentu menandakan pemulihan permintaan dalam jangka panjang.

“Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan konflik Timur Tengah berlangsung berkepanjangan,” tulis analis Goldman Sachs Group Inc., termasuk Daan Struyven, dalam sebuah catatan dikutip dari Bloomberg, Selasa (8/9).

Goldman sedikit menaikkan proyeksi harga minyak dengan asumsi gangguan pelayaran akan berlanjut hingga 2027.  Meski terdapat risiko terhadap pelayaran, pasokan minyak masih terus keluar dari kawasan Teluk Persia. Menurut Macquarie Group Ltd, sekitar 7 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari masih melintasi Selat Hormuz. 

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang. Pejabat AS dalam beberapa kesempatan juga menyebut ekspor tetap kuat dalam sepekan terakhir.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani