Harga Minyak Tembus US$ 101 per Barel usai Iran Nyatakan Siap Perang Lawan AS

Pertamina International Shipping
Kapal tanker Pertamina Pride milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang sempat tertahan di Selat Hormuz
Penulis: Mela Syaharani
10/9/2026, 09.44 WIB

Harga minyak acuan dunia, Brent bertengger di US$ 101 per barel usai Iran menyatakan siap menghadapi perang yang lebih intensif. Pernyataan tersebut disampaikan setelah kembali pecahnya peperangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran akan gangguan yang lebih serius terhadap lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz.

Harga Brent berada di level US$ 101,33 per barel, pada pukul 09.06 waktu Singapura. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,5% menjadi US$ 96,56 per barel.

Kekhawatiran mengenai konflik yang berlangsung lama turut mendorong kenaikan harga energi. Bloomberg mencatat, harga Brent telah naik hampir 70% sepanjang tahun ini.

Meski harga minyak sudah melampaui US$ 100 per barel, namun angka ini  masih jauh di bawah level tertinggi selama perang, yakni US$ 126 per barel yang dicapai pada April. Salah satu faktornya adalah masih adanya sebagian minyak mentah yang mengalir keluar dari Teluk Persia.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada Bloomberg bahwa hampir 11 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari mengalir melalui Selat Hormuz.

Tak hanya minyak mentah, harga produk olahan seperti diesel bahkan mencatat kenaikan yang lebih tajam, mencerminkan risiko pasokan akibat perang Iran dan konflik Rusia-Ukraina.

“Kenaikan harga minyak akan menjadi perhatian menjelang pemilu paruh waktu,” kata Kepala Strategi Komoditas di ING Groep NV., Warren Patterson, dikutip dari Bloomberg, Kamis (10/9).

Terkait perang Timur Tengah, Iran mengatakan tidak berniat mundur menghadapi blokade angkatan laut Amerika Serikat. Negara tersebut bahkan berniat meningkatkan serangannya jika AS terus menyerang wilayahnya.

Pertempuran yang kembali pecah dalam sepekan terakhir mengakhiri periode relatif tenang dan mendorong harga minyak serta gas alam lebih tinggi. Presiden AS Donald Trump mengatakan perang hanya akan berakhir setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) pada November.

Dia menyebut penurunan harga bensin yang signifikan tidak akan terjadi sebelum itu. Pernyataan tersebut mengindikasikan kecilnya peluang deeskalasi konflik dalam waktu dekat, yang kini telah memasuki bulan ketujuh.

AS berupaya melumpuhkan perekonomian Iran melalui blokade angkatan laut yang telah memangkas ekspor minyak Iran, disertai ancaman sanksi terhadap pemerintah dan perusahaan yang gagal memutus hubungan dengan Teheran.

Pejabat Iran tersebut mengakui terjadi tekanan ekonomi yang semakin besar, tetapi para pemimpin Iran menilai tidak memiliki banyak pilihan selain terus berperang hingga mereka yakin Washington akan berpikir ulang untuk kembali menyerang.

Para penasihat Gedung Putih, termasuk Wakil Presiden JD Vance, secara pribadi telah membahas dengan Trump kemungkinan perang dengan Iran dapat berlanjut hingga sisa masa jabatannya. Skenario tersebut akan membebani sumber daya militer AS dan meningkatkan risiko gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Tak hanya faktor perang Iran-AS, kenaikan harga minyak juga turut ditopang oleh meningkatnya pembelian minyak oleh Cina yang memperketat pasar minyak global. Peningkatan ini kemungkinan akan berkurang karena kilang-kilang kecil Cina mengalami tekanan imbas kenaikan harga. 

Kondisi tersebut kemungkinan memaksa mereka mengurangi tingkat pengolahan dalam beberapa pekan mendatang. Hal ini berpotensi menekan permintaan di negara yang merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia tersebut.

=https://www.bloomberg.com/news/articles/2026-09-09/latest-oil-market-news-and-analysis-for-sept-10

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani