Vale Percepat Smelter HPAL Pomalaa, Produksi Penuh Ditargetkan 2027
PT Vale Indonesia mengatakan fasilitas pemurnian dan peleburan (smelter) High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang berada di Pomalaa, Sulawesi Tenggara akan memasuki tahap mechanical completion bulan ini.
Mechanical completion merupakan tahap dalam proyek konstruksi, dimana seluruh instalasi fisik mencakup seluruh komponen telah selesai dipasang dan diuji sesuai dengan spesifikasi desain.
“Di 15 September atau minggu depan akan dimulai pengetesan semua proses end to end dari tambang hingga smelter,” kata Director & Chief Project Officer PT Vale, Muhammad Asril dalam Public Expose 2026, Kamis (10/9).
Smelter HPAL di Pomalaa dikembangkan bersama PT Kolaka Nickel Indonesia, perusahaan patungan Perseroan dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd dan Ford Motor Co. perusahaan patungan Perseroan dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd dan Ford Motor Co.
Dia menyebut pada awalnya tahapan tersebut seharusnya baru dilakukan pada Desember 2026. Namun perusahaan melakukan percepatan sehingga proses mechanical completion bisa dilakukan bulan ini, atau paling lambat Oktober 2026.
Setelah proses tersebut dilakukan, perusahaan akan melakakan ramp up atau peningkatan hingga tahap produksi penuh selama tiga hingga enam bulan ke depan.
“Sehingga di 2027 kami bisa mulai peningkatan dan produksi penuh 120 ribu ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di Pomalaa,” ujarnya.
MHP merupakan produk antara (intermediate) berupa endapan campuran hidroksida nikel dan kobalt.
Dia menyebut Vale secara paralel juga menyelesaikan beberapa fasilitas, khususnya akomodasi, workshop, dan fasilitas penunjang lainnya. Smelter ini lokasinya terintegrasi dengan tambang Vale. Proyek penambangan dioperasikan oleh PT Vale Indonesia Tbk.
Menurut laman resmi perusahaan keberadaan smelter HPAL bertujuan untuk memproduksi nikel mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan utama baterai kendaraan listrik. Selain itu juga dibangun berbagai fasilitas pendukung.
Output tahunan yang diperkirakan dari proyek ini mencapai 120.000 ton nikel dan sekitar 15.000 ton kobalt yang terkandung dalam produk MHP. Investasi yang dikeluarkan di Blok Pomalaa untuk tambang dan fasilitas HPAL mencapai US$ 4,5 miliar.
Blok Pomalaa menyimpan potensi besar dari jenis bijih limonite yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Melalui teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), Vale membuka peluang baru untuk menjadikan limonite sebagai sumber daya strategis bagi bahan baku baterai kendaraan listrik.