Konsumsi Listrik Data Center yang Dilayani PLN Capai 2.378 GWh

Equinix
Fasilitas data center atau pusat data pertama Equinix di Jakarta, JK1 Data Center.
Penulis: Ahmad Islamy
26/9/2026, 15.59 WIB

PT PLN (Persero) mencatat konsumsi listrik dari 159 pelanggan pusat data (data center) yang dilayaninya mencapai 2.378 gigawatt hour (GWh). Besarnya kebutuhan listrik dari industri tersebut menunjukkan pentingnya peran infrastruktur energi dalam menopang keberlangsungan ekonomi digital.

“Pertumbuhan kebutuhan listrik dalam ekosistem data center menunjukkan semakin pentingnya infrastruktur energi bagi pertumbuhan ekonomi digital,” ungkap Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (26/9).

Menurut dia, ekspansi industri data center membutuhkan dukungan kelistrikan dengan spesifikasi yang semakin kompleks. Kebutuhan tersebut mencakup kapasitas yang memadai, tingkat keandalan tinggi, kualitas daya yang terjaga, hingga penggunaan sumber energi bersih. Karena itu, PLN terus mempersiapkan infrastruktur dan layanan kelistrikan yang disesuaikan dengan kebutuhan serta rencana ekspansi para pelanggan data center.

Darmawan menuturkan PLN akan memperkuat infrastruktur ketenagalistrikan untuk mengimbangi pertumbuhan industri pusat data di Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan transformasi digital.

“PLN ingin pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan dapat berjalan seiring dengan perkembangan sektor digital. Karena itu, perencanaan perlu dilakukan sejak awal agar kebutuhan energi dapat diantisipasi dan investasi dapat tumbuh secara berkelanjutan,” katanya.

Masih Terpusat di Jawa-Madura-Bali

Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati mengungkapkan, PLN saat ini melayani 159 pelanggan data center dengan total kapasitas listrik tersambung mencapai 2.038 megavolt ampere (MVA). Sekitar 99% kapasitas tersebut masih terpusat pada sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali, dengan Jawa Barat menjadi salah satu kawasan utama pengembangan data center.

Kendati demikian, pembangunan pusat data kini mulai meluas ke sejumlah wilayah di luar Jawa-Madura-Bali, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Perluasan tersebut diperkirakan akan mendorong peningkatan kebutuhan listrik dari sektor teknologi. Oleh sebab itu, PLN menilai perencanaan infrastruktur kelistrikan perlu diselaraskan dengan karakteristik kebutuhan dan potensi pertumbuhan di masing-masing wilayah.

Dini mengungkapkan, 159 pelanggan data center PLN saat ini mencatat konsumsi listrik sebesar 2.378 GWh. “Kami percaya ini baru permulaan. Kecerdasan buatan, cloud computing, layanan digital, serta pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan terus menciptakan kebutuhan listrik baru dalam skala yang sangat signifikan,” ujarnya.

Menurut Dini, tantangan PLN ke depan adalah menjaga keseimbangan antara percepatan penambahan kapasitas listrik dengan keandalan pasokan, keterjangkauan tarif, dan stabilitas sistem dalam jangka panjang. Karena itu, pembangunan pembangkit dan jaringan listrik perlu dirancang secara terintegrasi sejak tahap awal agar mampu mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan energi industri data center.

PLN pun mendorong penerapan pendekatan early alignment, yakni koordinasi antara PLN dan pengembang sejak tahap awal perencanaan pusat data.

“Komitmen lebih awal dan koordinasi lebih erat dari kedua belah pihak, didukung proyeksi permintaan yang lebih jelas, jadwal energisasi yang realistis, kecepatan pengembangan kapasitas yang tepat, serta kerja sama yang lebih kuat antara PLN, pelanggan, dan pemerintah,” kata Dini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara