Harga Minyak Turun 2% seiring Peningkatan Pengiriman dari Timur Tengah

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Kapal tongkang akomodasi (Barge 222) Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu (15/6/2022).
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Ahmad Islamy
6/10/2026, 09.47 WIB

Harga minyak acuan dunia turun 2% pada Selasa (6/10). Penurunan itu disebabkan meningkatnya ekspor minyak dari Teluk Persia dan pemangkasan harga oleh Arab Saudi.

Minyak mentah Brent, sebagai acuan global, diperdagangkan US$ 100,57 per barel pada pukul 09.22 waktu Singapura. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,2% menjadi US$ 89,57 per barel.

Produsen minyak di Teluk Persia telah meningkatkan volume pengiriman melalui Selat Hormuz. Kini semakin banyak kapal tanker yang mengambil risiko melintasi jalur perairan tersebut meskipun risikonya masih tinggi.

Kuwait menyatakan, mereka memompa minyak sekitar 75% dari tingkat produksi sebelum Perang Iran-AS. Sementara Irak tengah berupaya menyewa kapal tambahan untuk mengirim kargo mereka melalui Selat Hormuz. 

Langkah tersebut dilakukan setelah Saudi Aramco memangkas harga minyak jenis Arab Light andalannya untuk pembeli di Asia ke level terendah dalam enam tahun, guna mendorong pangsa pasar.

Harga Brent masih sekitar 65% lebih tinggi sepanjang tahun ini setelah AS dan Israel menyerang Iran pada Februari lalu. Perang itu telah mengganggu pasokan dan memicu inflasi. 

Meskipun arus minyak dari Timur Tengah telah pulih mendekati level sebelum konflik, pasar produk minyak masih mengalami keterbatasan yang cukup besar. Sebagian disebabkan oleh serangan Ukraina terhadap Rusia. Kondisi tersebut mendorong Kelompok Tujuh (G7) dan mitranya untuk menambah pelepasan cadangan minyak.

Di Yaman, pasukan yang didukung Arab Saudi merebut Kota Mocha di Laut Merah dari kelompok Houthi ketika mereka bergerak menuju titik sempit Bab el-Mandeb, jalur maritim penting bagi ekspor Arab Saudi. Dalam beberapa bulan terakhir, eskalasi serangan Houthi terhadap Riyadh telah merusak infrastruktur energi dan kapal tanker.

Mitra di perusahaan konsultan energi Market Risk Advisory Co, Naohiro Niimura, menyebut meskipun arus pasokan mulai pulih, pemangkasan harga oleh Arab Saudi dan pelepasan cadangan darurat membebani harga minyak mentah. Namun, meningkatnya pertempuran di Yaman dan risiko serangan lebih lanjut membatasi penurunan harga tersebut.

“Kekhawatiran terhadap pasokan masih ada, sehingga pasar sulit mempertahankan posisi jual dalam waktu lama,” katanya, dikutip dari Bloomberg, Selasa (6/10).

Pada Selasa waktu setempat, Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat dijadwalkan merilis Short-Term Energy Outlook, termasuk proyeksi bahan bakar selama musim dingin di Belahan Bumi Utara. Laporan tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi diesel dan minyak pemanas di tengah tekanan pasar yang akut dan harga yang mencapai rekor.

Presiden Donald Trump sebelumnya telah melonggarkan pembatasan terhadap penggunaan dyed diesel yang bebas pajak dalam upaya menurunkan biaya. Kebijakan yang telah lama dinantikan tersebut memungkinkan penggunaan produk tersebut secara lebih luas.

“Orang harus bertanya-tanya apakah Iran akan mencoba memanfaatkan periode menjelang pemilihan paruh waktu. Situasinya penuh dengan bahaya, dan harga energi yang tinggi adalah harga yang harus dibayar,” kata direktur divisi energy futures di Mizuho Securities USA LLC, Robert Yawger.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani