Harga Minyak Dunia Melonjak, Serangan Rusia hingga Timur Tengah Jadi Pemicu
Harga minyak terus menguat di tengah meningkatnya serangan dari Rusia hingga Timur Tengah mengancam pasokan yang baru saja pulih mendekati level sebelum perang.
Harga Brent naik 0,4% dan ditutup pada US$ 106,06 per barel pada Rabu, sementara harga West Texas Intermediate turun 0,3% menjadi US$ 94,77 per barel pada pukul 07.13 waktu Singapura.
Bloomberg mencatat, sebuah kapal kargo tenggelam setelah terkena proyektil tak dikenal saat melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, kelompok Houthi yang didukung Iran terus melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak di berbagai wilayah Arab Saudi.
Di sisi lain, ketegangan juha terjadi karena Rusia menuduh Ukraina menyerang dua kilang minyak mereka, sehingga melanggar gencatan senjata energi yang dipromosikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan kilang minyak yang ditargetkan berada di wilayah Saratov dan Ryazan. Posisi Ryazan terletak di dekat Moskow, memiliki kapasitas pengolahan sekitar 400.000 barel per hari dan merupakan salah satu kilang minyak terbesar di Rusia.
Harga Brent telah melonjak lebih dari 70% sepanjang tahun ini seiring perang AS-Iran mengguncang pasar energi. Penipisan stok selama pertempuran telah menyebabkan persediaan global yang terpantau berada 509 juta barel, di bawah level sebelum konflik.
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat persediaan minyak di darat berada di dekat level terendah setidaknya satu dekade. IEA memperingatkan pasokan solar dan bahan bakar lainnya akan tetap berada di bawah tekanan tahun depan.
“Jika serangan baru terhadap infrastruktur minyak di Timur Tengah semakin mengganggu pasokan minyak di tengah pasar fisik yang sudah sangat ketat, biaya energi dan inflasi akan meningkat lebih tinggi lagi,” kata kepala global strategi komoditas di TD Securities, Bart Melek dikutip dari Bloomberg, Kamis (15/10).
Di tengah ketegangan ini, Bloomberg mencatat semakin banyak kapal tanker minyak yang menghindari Timur Tengah. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan serangan Iran terhadap kapal-kapal semakin mempersulit logistik ekspor.
Kapal-kapal yang mampu mengangkut setidaknya 37 juta barel telah berhenti atau mengubah haluan saat menuju wilayah pemuatan di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman. Namun, sejauh ini belum ada bukti jelas bahwa arus pasokan minyak dari kawasan Teluk telah menurun.
Prospek meredanya ketegangan melalui jalur diplomatik masih belum pasti. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan tujuan Republik Islam Iran bukanlah perang tanpa akhir atau perundingan yang berkepanjangan. Sebaliknya, Iran berupaya melemahkan musuh hingga terpaksa menerima tuntutan mereka.