Bahlil Akui Stok Pertalite Nasional Merosot Jadi 16-18 Hari
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengakui saat ini stok bahan bakar minyak (BBM) subsidi Pertalite mencapai 16 hari. Jumlah tersebut turun dari angka standar 20 hari.
“Tadi saya mendapat laporan dari Pertamina, secara nasional stok BBM kita itu berada di angka 16-18 hari,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (16/10).
Dia menyebut turunnya stok Pertalite ini disebabkan oleh proses pencampuran BBM yang masih dilakukan di kilang dan terjadinya perpindahan pola konsumsi. Masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM non-subsidi kini beralih menjadi subsidi.
Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan perpindahan ini dilakukan masyarakat karena perbedaan harga antara BBM subsidi dan non-subsidi yang lumayan besar.
“Untuk mengembalikan stok ke 20 hari, kami butuh waktu seminggu. Tapi stok 16-18 hari ini bukan berarti kita kekurangan, masih tergolong oke,” ujarnya.
Bahlil menyebut stok yang berkurang ini hanya terjadi di Pertalite, untuk jenis BBM non-subsidi lainnya tidak ada masalah.
Konsumsi Pertalite Naik
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat terjadi kenaikan konsumsi Pertalite usai terjadi kenaikan pada harga BBM Nonsubsidi pada Juni 2025. Harga pertamax melonjak 32,11% menjadi Rp 12.300 sejak Juni 2026, sedangkan harga BBM nonsubsidi lainnya bahkan naik hingga lebih dari 50%.
“Ada pergerakan angka Pertalite. Konsumsinya cukup melonjak setelah kenaikan harga BBM non-subsidi, baik itu Pertamax ataupun Pertamax Turbo,” ujar Kepala Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Kementerian ESDM Wahyudi Anas dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8).
Sebelum ada kenaikan harga, rerata penyaluran harian Pertalite sebesar 75.795 kilo liter (kl). Namun, setelah ada kenaikan harga Pertamax, konsumsi rerata harian Pertalite meningkat 9,19% menjadi 82.760 kl pada Juni. Konsumsi BBM subsidi ini pun kian melonjak menjadi 85.589 kl pada 1 Juli 2026.
“Kenaikan (kembali terjadi) pada 1-31 Juli 2026. Rerata konsumsi Pertalite naik 12,92% dari selisih konsumsi (normal),” ujarnya.
Anas menyampaikan, kenaikan konsumsi ini disebabkan adanya disparitas harga yang semakin lebar antara Pertalite dengan BBM non-subsidi lainnya.
“Jadi artinya kenaikan konsumsi pertalite yang rerata saat ini menjadi 84.368 kl ini memang shifting (perpindahan) dari yang semula konsumsi pertamax menjadi pertalite,” ucapnya.