RI Siapkan Pabrik Bioetanol Raksasa di Merauke, Operasi Mulai 2027

Katadata/Fauza Syahputra
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan paparan pada acara Sarasehan Nasional: Mendorong Keberlanjutan Industri Hulu Minyak dan Gas untuk Kemandirian Energi di Jakarta, Selasa (9/7/2025). Acara tersebut menjadi wadah pertukaran ide antara pemerintah, pelaku industri dan akademisi guna mendorong keberlanjutan sektor migas Indonesia.
8/8/2025, 15.54 WIB

Pemerintah tengah fokus menyiapkan pembangunan pabrik bioetanol di Merauke, Papua Selatan. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, proyek ini akan dipercepat agar bisa beroperasi pada 2027.

“Jadi kami harapkan 2027 akan berproduksi biodiesel di Merauke, Papua Selatan. Ini sedang kami konsolidasikan,” ujar Yuliot saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (8/8).

Bioetanol merupakan bahan bakar nabati (BBN) hasil fermentasi sumber nabati seperti tetes tebu, jagung, kedelai, umbi-umbian, dan lainnya. Bahan bakar ini mengandung oksigen hingga 35%, sehingga berpotensi menekan emisi kendaraan.

Menurut Yuliot, produksi bioetanol di Merauke nantinya akan berbasiskan tebu dan difokuskan untuk kebutuhan dalam negeri. “Bioetanol berbasiskan tebu yang saat ini sudah mulai konstruksi pabriknya,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Bahlil Lahadalia juga menegaskan pentingnya percepatan konversi tebu menjadi etanol dan metanol di Merauke.

“Setiap tahun Indonesia mengimpor etanol dan metanol. Jadi mungkin yang di Merauke ini yang perlu kita push untuk tebunya itu dikonversi ke etanol dan metanol saja,” kata Bahlil dalam siaran pers, Jumat (18/7).

Industri Gula Terintegrasi

Pembangunan pabrik bioetanol ini merupakan bagian dari pengembangan proyek lumbung pangan atau Food Estate Merauke yang dirancang menjadi pusat industri gula nasional.

Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi (Kemenves) Edy Junaedi menjelaskan, pabrik gula di Merauke akan menghasilkan Gula Kristal Putih (GKP) dan molases limbah produksi gula yang dapat diolah menjadi bioetanol.

“Kami sedang mendorong agar Food Estate di Merauke dapat menghasilkan gula sejumlah 2 juta ton per tahun dan bioetanol hingga 200 juta liter per tahun,” kata Edy dalam Executive Meeting di Jakarta, Senin (18/11/2024).

Edy mengatakan, pembentukan industri gula terintegrasi sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada pangan dan energi. Pemerintah berencana mengarahkan mayoritas investasi hingga 2029 untuk mewujudkan visi tersebut.

Ia memperkirakan, pembangunan industri gula terintegrasi di Food Estate Merauke membutuhkan investasi besar, yakni sekitar Rp 83 triliun. Menurutnya, program ini akan menjadi investasi jangka panjang bagi Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani