Rasio Lapangan Kerja dan Pencari Kerja Kini 1:16, Gen Z Paling Banyak Menganggur

ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/nz
Pencari kerja melakukan wawancara di salah satu stan perusahaan pada Bursa Kerja 2025 di GOR Ken Arok, Malang, Jawa Timur, Rabu (29/10/2025). Pemerintah Kota Malang menggelar kegiatan itu untuk memperluas kesempatan kerja dan menekan angka pengangguran, dengan menghadirkan 61 perusahaan yang menawarkan 2.500 formasi kepada sekitar 5.500 pelamar kerja.
5/11/2025, 20.26 WIB

Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo menyoroti ketimpangan permintaan dan pasokan tenaga kerja di dalam negeri. Fenomena tersebut dinilai menjadi akar tingginya angka pengangguran generasi Z yang kini berkontribusi hingga 67% dari jumlah pengangguran terbuka.

Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani mengatakan total pembukaan lapangan kerja hanya mencapai 2 juta sampai 4,5 juta orang per tahun. Sementara itu, total pengangguran terbuka saat ini mencapai 9 juta orang. Kondisi tersebut diperburuk dengan bertambahnya angkatan kerja antara 2 juta sampai 4 juta orang per tahun.

"Kondisi ini membuktikan pencarian lapangan kerja saat ini semakin sulit. Sebab, rasio lapangan kerja dan pencari kerja telah naik dari 1:3 menjadi 1:16 saat ini," kata Shinta di Jakarta Selatan, Rabu (5/11).

Shinta menemukan tingginya rasio antara lapangan dan pencari kerja tercermin dari minat program Magang Nasional. Kementerian Ketenagakerjaan mendata peminat program Magang Nasional mencapai 160.000 orang, sementara jumlah peserta program tersebut hanya untuk 20.000 orang.

Dia mengakui peningkatan investasi penting untuk menggenjot pembukaan lapangan kerja baru. Namun, Shinta berargumen pemerintah harus fokus meningkatkan kualitas pekerjaan di sektor informal.

Sebab, Shinta menemukkan sebagian besar pengangguran terbuka memilih untuk menjadi pekerja informal, seperti pengemudi ojek dari atau pekerjaan lepas lainnya. Menurutnya, fenomena tersebut membuat kontribusi serapan tenaga kerja di sektor informal naik menjadi 60% pada tahun ini.

Selai itu, Shinta mengatakan definisi orang bekerja pada akhirnya membuat pekerja lepas tidak termasuk pengangguran terbuka. Sebab, Badan Pusat Statistik menilai orang yang minimal bekerja 1 jam per minggu masuk dalam kategori orang bekerja.

"Kita harus memperhatikan angkatan kerja yang masuk sektor informal. Bagaimana kita bisa meningkatkan kualitas pekerjaan mereka," ujarnya.

Shinta menilai program Magang Nasional dapat menjadi peluang penciptaan lapangan kerja layak pada tahun depan. Sebab, perusahaan mendapatkan insentif untuk melakukan ekspansi jika peserta magang memiliki evaluasi yang baik.

"Perlu banyak perusahaan yang memanfaatkan program Magang Nasional. Namun para pengusaha harus melihat bahwa kunci utama penciptaan lapangan kerja layak adalah investasi," katanya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan kembali membuka program Magang Nasional untuk 100.000 orang pada tahun depan. Hal tersebut dilakukan setelah melihat animo pendaftar peserta program tersebut pada gelombang pertama untuk 20.000 orang.

Airlangga mencatat total lulusan perguruan tinggi yang mendaftar dalam program tersebut hampir 160.000 orang sekitar sebulan terakhir. Dengan demikian, rasio terbesar antara sebuah lowongan kerja dan peminat program mencapai 1:200.

"Berdasarkan data ini, kami akan luncurkan kembali program Magang Nasional pada tahun depan. Kami sangat berharap perusahaan membuka lowongan di sektor digital, lantaran kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut mencapai 9 juta orang pada 2030," kata Airlangga dalam pembukaan Gelombang Pertama Program Magang Nasional, Senin (20/10).

Airlangga menyampaikan program Magang Nasional akan menjadi kegiatan rutin yang diadakan Kementerian Ketenagakerjaan. Karena itu, Airlangga memberikan sinyal total kuota program Magang Nasional pada tahun depan dapat lebih dari 100.000 orang.

Politikus Partai Golkar ini menilai program Magang Nasional untuk menjembatani pasokan angkatan kerja dan kebutuhan perusahaan. Sebab, program tersebut dinilai dapat memberikan pengalaman kerja yang sejauh ini minim dimiliki lulusan perguruan tinggi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief