Pengangguran di Indonesia bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga krisis moral dan sosial yang mengancam potensi bonus demografi, menuntut kebijakan kerja yang lebih manusiawi.
Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, ada sejumlah kejanggalan dalam data capaian pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun 2025 yang dirilis pekan lalu.
BPS mencatat kondisi tenaga kerja Indonesia membaik dengan penyerapan 1,37 juta pekerja baru dan tingkat pengangguran turun ke 4,74% pada November 2025.
Tingkat pengangguran Indonesia capai 4,85%, namun indikator baru jobs gap dari ILO mengungkap kesenjangan di pasar kerja yang tak terlihat dari angka semata.
Beberapa jam setelah BPS merilis data pertumbuhan dan kemiskinan terendah sejak 1998, Moody’s memangkas outlook utang RI jadi negatif, menyoroti risiko fiskal dan ketidakpastian kebijakan.
Jumlah pengangguran di Indonesia pada November 2025 dibandingkan Agustus 2024 sebanyak 7,47 juta orang, tetapi naik dibandingkan Februari 2025 sebanyak 7,28 juta orang.
Pasar Tenaga Kerja Indonesia diproyeksikan tetap solid memasuki 2026, didorong pertumbuhan dalam negeri dan peluang relokasi industri global, asal didukung kesiapan talenta.
Bapak AI dunia Geoffrey Hinton memperingatkan bahwa AI dapat mengambilalih lebih banyak pekerjaan pada 2026. Ekonom menyebutnya sebagai 'jobless Boom'. Apa itu?
Di banyak negara, masa transisi sekolah ke kerja menjadi bagian penting dari kebijakan pembangunan manusia. Indonesia belum pernah benar-benar membangunnya.
Program magang khusus untuk fresh graduate sudah dibuka dengan 80 ribu lowongan kerja di perusahaan swasta dan instansi pemerintah. Program ini penting untuk menekan angka pengangguran.