Kadin Bidik Mitra Baru dari Cina yang Belum Pernah Masuk Pasar Indonesia

Media Center IAF II-HLF MSP/Ari Bowo Sucipto/nym
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W. Kamdani
29/1/2026, 21.56 WIB

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia membidik kemitraan dengan perusahaan-perusahaan asal Cina yang selama ini belum pernah masuk ke pasar Indonesia. 

Upaya tersebut dilakukan melalui konferensi bisnis internasional yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan perusahaan dari Cina dan Hong Kong, yang akan digelar dalam waktu dekat.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta W. Kamdani, mengatakan konferensi tersebut menjadi sarana untuk membuka peluang kerja sama jangka panjang. Kerja sama akan fokus pada penguatan rantai pasok dan pengembangan sektor berkelanjutan, termasuk baterai dan energi hijau.

“Kita tidak hanya melihat perusahaan besar yang sudah ada di Indonesia. Banyak perusahaan Cina yang belum dikenal dan kami ingin jalin kemitraan,” kata dia dalam konferensi pers menuju China Conference: Southeast Asia (CCSEA) 2026, di Jakarta Selatan, Kamis (29/1). 

Dari sisi ekonomi domestik, ia berharap kemitraan ini dapat membuka pasar dan mitra baru di tengah tekanan yang dihadapi industri manufaktur nasional. 

Shinta mengakui bahwa industri padat karya seperti tekstil tengah menghadapi tekanan yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja. Meski demikian, ia melihat peluang besar dari masuknya investasi baru, baik di sektor manufaktur, kendaraan listrik (EV), mineral kritis, akuakultur, dan pertanian. 

“Jadi, kita sekarang, kalau kita bilang diversifikasi itu penting, karena kita tidak bisa hanya bersandar ke pasar-pasar (negara) tradisional,” kata dia. 

Cina menjadi tujuan strategis bagi kerja sama jenis ini. Sebab, ia menilai, skema struktur perdagangan di Indonesia masih bergantung pada impor. “Dan Cina itu adalah salah satu sumber impor yang besar buat Indonesia,” kata Shinta.

Sedangkan Chief Development Officer South China Morning Post, Eugene Tang mengatakan dalam konferensi tersebut, akan hadir berbagai perusahaan dari beragam sektor, termasuk perusahaan yang belum pernah berinvestasi di Indonesia.

“Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari iklim usaha Indonesia, termasuk ukuran pasar, potensi pertumbuhan, serta kerangka regulasi dan aturan perpajakan yang berlaku,” kata dia. 

Beberapa perusahaan besar Cina seperti Huawei, BYD, dan Oppo telah lebih dulu beroperasi dan berinvestasi di Indonesia. Namun, sebagian besar perusahaan yang hadir di CCSEA 2026 merupakan pelaku industri baru yang masih dalam tahap awal penjajakan pasar.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina