Mentan: Peternakan Danantara Diproyeksikan Stabilkan Harga dan Pasokan di Hulu

ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/pras.
Ilustrasi peternakan ayam.
Penulis: Kamila Meilina
10/2/2026, 18.38 WIB

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui skema peternakan Danantara untuk menyeimbangkan struktur pasar industri ayam nasional. 

Ia mengatakan langkah ini ditempuh guna menstabilkan harga anak ayam umur sehari (DOC), telur, dan daging ayam yang kerap bergejolak.

“Yang pertama, kita ingin harga stabil. Harga DOC, harga telur, harga ayam harus stabil. Caranya, pemerintah harus bergerak dari hulu, yaitu di pakan, vaksin, dan DOC. Tanpa itu tidak mungkin,” kata Amran di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, di Jakarta Pusat, Selasa (10/2).

Menurutnya, selama ini gejolak harga selalu memicu keluhan dari dua sisi sekaligus, di sisi peternak sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen. Padahal, Indonesia telah mencapai swasembada telur dan daging ayam.

“Artinya, ada yang tidak beres di tata kelola hulu,” ujarnya.

Amran mengungkapkan, pemerintah sempat menemukan kenaikan harga DOC hingga 30% secara tiba-tiba. “Kalau tidak diturunkan, saya setop impor DOC. Itu yang sering terjadi,” katanya.

Untuk mencegah praktik serupa terulang, pemerintah menyiapkan BUMN agar masuk ke sektor hulu, khususnya pada produksi pakan dan DOC. 

“Ini untuk menjamin suplai ke peternak kecil. Pemerintah sebagai stabilisator, bukan seperti perusahaan swasta murni,” kata Amran.

Ia menekankan, sebagai entitas milik negara, BUMN akan berada di bawah garis komando pemerintah sehingga lebih mudah dikendalikan jika terjadi penyimpangan harga.

“Kalau ada direksi yang menaikkan harga dan menyusahkan peternak, ya ditindak. Tidak mungkin macam-macam,” katanya.

Bakal Bangun 30 Pabrik Ayam

Sebelumnya, Danantara resmi melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi pada Jumat (6/2), termasuk pengembangan industri ayam terintegrasi. CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyebutkan total investasi proyek hilirisasi mencapai US$ 7 miliar atau sekitar Rp 118 triliun. 

Untuk sektor unggas, Danantara akan membangun 30 pabrik ayam di enam provinsi, yakni Jawa Timur, Gorontalo, Lampung, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Nilai investasi sektor ini mencapai Rp 20 triliun 

 Proyek ini ditargetkan menambah produksi 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur. Rosan menyebut hilirisasi ini bertujuan memenuhi ketahanan pangan nasional untuk kebutuhan MBG. 

 “Kami berharap dapat meningkatkan pendapatan peternakan hingga Rp 81,5 triliun per tahun,” kata Rosan.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina