Lotte Chemical Turunkan Produksi Imbas Krisis Pasokan Bahan Baku Plastik

ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/foc.
Seorang satpam melintas dengan latar belakang pabrik di PT Lotte Chemical Indonesia, Kota Cilegon, Banten, Kamis (6/11/2025). Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasional PT Lotte Chemical Indonesia sebagai pabrik petrokimia terbesar se-Asia Tenggara yang dapat memproduksi 1.000 kiloton per tahun (kTA) ethylene, 520 kTA propylene, 350 kTA polypropylene, serta 140 kTA butadiene dengan pembangunan pabrik menelan investasi sekitar 4 miliar dolar AS.
9/4/2026, 13.06 WIB

PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) menurunkan tingkat produksinya di tengah krisis pasokan bahan baku plastik yang dipicu gangguan rantai pasok global. Kondisi ini menysul eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang menghambat distribusi energi dan bahan baku utama industri petrokimia.

Direktur Management Support LCI, Cho Jin-Woo mengatakan perusahaan tetap beroperasi meski dengan kapasitas yang disesuaikan. “LCI hingga saat ini masih beroperasi namun dengan menurunkan tingkat produksinya, dikarenakan rute pengadaan bahan baku telah diubah akibat hambatan logistik yang ada,” ujar dia dalam keterangan resmi, Rabu (8/4).

LCI merupakan bagian dari Lotte Chemical Corporation yang mengoperasikan fasilitas naphtha cracker di Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai jutaan ton per tahun.

Di tengah tekanan itu, LCI disebut memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasar domestik. Alokasi produk dan kapasitas produksi yang tersedia difokuskan untuk menjaga pasokan bagi industri hilir dan manufaktur nasional, guna mencegah gangguan lebih lanjut pada rantai produksi dalam negeri.

“Prioritas utama kami adalah menjaga keberlangsungan pasokan bagi industri dalam negeri,” kata Cho. Ia menambahkan, perusahaan terus mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk meminimalkan dampak terhadap pelanggan sekaligus menjaga stabilitas sektor manufaktur.

Penurunan produksi ini disebabkan gangguan di Selat Hormuz yang berdampak langsung pada ketersediaan nafta dan LPG, dua komoditas kunci dalam produksi plastik. Hambatan logistik membuat jalur pengadaan bahan baku LCI harus dialihkan, sehingga memengaruhi stabilitas operasional perusahaan.

Langkah Mitigasi Cari Alternatif Sumber Bahan Baku 

Sebagai langkah mitigasi, LCI juga mencari alternatif sumber bahan baku dari berbagai wilayah untuk memastikan keberlanjutan produksi. Namun, tekanan biaya dan kendala logistik dinilai masih menjadi tantangan utama di tengah krisis global yang berlangsung.

Untuk itu, LCI mendorong adanya dukungan strategis dari pemerintah. Beberapa usulan yang diajukan antara lain penyederhanaan regulasi impor bahan baku, penerapan bea masuk 0% untuk LPG, serta pemberian insentif fiskal sementara guna menekan lonjakan biaya produksi.

Selain itu, perusahaan juga meminta dukungan pemerintah dalam memastikan keamanan jalur distribusi, termasuk membantu membuka akses bagi kapal pengangkut bahan baku yang saat ini tertahan di kawasan Selat Hormuz.

Cho menilai, dukungan tersebut penting tidak hanya untuk menjaga operasional perusahaan, tetapi juga untuk menopang ketahanan industri petrokimia nasional dalam jangka panjang. “Kami berharap pemerintah dapat memastikan ketersediaan energi dan dukungan kebijakan yang tepat sasaran agar aktivitas produksi tetap berlanjut dan mendukung program hilirisasi,” ujarnya.

LCI menegaskan komitmennya untuk menjaga transparansi komunikasi dengan para pelanggan dan pemangku kepentingan, serta memastikan keberlanjutan pasokan di tengah situasi global yang penuh tantangan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina