Rupiah Melemah, Pelaku Logistik Harus Keluarkan Modal Kerja 20% Lebih Besar
Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah di atas level Rp17.500 per dolar AS menekan pelaku usaha logistik nasional. Pelemahan rupiah ini membuat kebutuhan modal kerja meningkat signifikan, terutama transaksi internasional yang menggunakan mata uang dolar AS.
Sekretaris Jenderal ALFI, Trismawan Sanjaya, mengatakan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap biaya operasional pelaku logistik, khususnya pada pembayaran jasa internasional, seperti angkutan laut dan udara.
“Langsung berdampak bagi pelaku logistik atas transaksi kegiatan internasional yang pembayarannya menggunakan dolar AS, seperti sea freight, air freight, overseas handling, dan insurance,” ujar Trismawan, kepada Katadata.co.id, Senin (18/5).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat perusahaan logistik harus mengeluarkan modal kerja lebih besar dibandingkan saat kurs rupiah masih berada di level lebih rendah. Kenaikan kebutuhan modal kerja diperkirakan mencapai sekitar 20%.
Selain sektor logistik, pelemahan rupiah juga dinilai memberi tekanan terhadap importir dan industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya impor berpotensi meningkatkan ongkos produksi dan menekan margin usaha.
“Juga sangat berdampak bagi importir dan industri manufaktur yang bahan bakunya sangat bergantung dari impor,” katanya.
Peluang Bagi Eksportir
Meski demikian, Trismawan melihat pelemahan rupiah juga membuka peluang bagi pelaku usaha berorientasi ekspor. Menurutnya, kondisi kurs saat ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan transaksi ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Ia juga mendorong pelaku usaha untuk memperkuat penetrasi pasar domestik di tengah ketidakpastian global dan tekanan nilai tukar.
“Peluang bagi pelaku usaha untuk optimalisasi transaksi ekspor dalam kondisi ini, dan juga lakukan konsentrasi pada pasar domestik,” ujarnya.
Per Senin (18/5), nilai tukar rupiah tercatat terus melemah mendekati level Rp17.700 per dolar AS. Kurs rupiah melemah di tengah menguatnya dolar AS seiring meningkatnya sentimen risk off di pasar global.
