Pelaku Industri Nilai Pemulihan Manufaktur RI Masih Rapuh meski PMI Naik ke 50

ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj.
Pekerja menyelesaikan proses produksi cat di pabrik PT Jotun Indonesia yang baru diresmikan di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (15/4/2026).
Penulis: Kamila Meilina
Editor: Ahmad Islamy
3/6/2026, 09.18 WIB

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Mei 2026 dari 49,1 menjadi 50,0 menunjukkan adanya sinyal stabilisasi pascaperiode kontraksi. Akan tetapi, capaian itu dinilai belum cukup kuat menandakan pemulihan sektor manufaktur yang berkelanjutan.

Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan angka PMI Manufaktur RI yang berada tepat di level 50 masih berada di ambang batas antara kontraksi dan ekspansi sehingga perlu dicermati secara hati-hati.

"Kami memandang kondisi saat ini lebih mencerminkan proses stabilisasi dibandingkan fase ekspansi yang sudah solid," ujar Shinta kepada Katadata.co.id, Selasa (2/6).

Menurutnya, sejumlah komponen dalam survei PMI masih menunjukkan tekanan. Output manufaktur tercatat turun selama tiga bulan berturut-turut, diikuti penurunan pembelian bahan baku, berkurangnya inventori input, penurunan tenaga kerja, serta kontraksi ekspor yang menjadi yang terdalam sejak Agustus 2021.

Perbaikan PMI pada Mei terutama ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik dan pesanan baru yang tumbuh selama dua bulan berturut-turut. Kondisi tersebut menunjukkan pasar domestik masih menjadi penyangga utama aktivitas manufaktur nasional.

Meskipun demikian, perbaikan tersebut belum merata karena permintaan eksternal masih menghadapi tekanan. Ketidakpastian global, gangguan geopolitik, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor masih membebani kinerja ekspor manufaktur Indonesia.

Di sisi lain, dunia usaha juga menghadapi tekanan biaya yang semakin besar. Berdasarkan hasil survei PMI, inflasi biaya input pada Mei tercatat menjadi yang tertinggi sejak 2013. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku, keterbatasan pasokan, dan gangguan rantai pasok global.

Tekanan itu diperparah terutama oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Apindo mencatat sekitar 70% kebutuhan bahan baku dan barang antara industri nasional masih bergantung pada impor, sehingga pergerakan kurs memiliki dampak langsung terhadap struktur biaya produksi.

"Hingga awal Juni 2026, rupiah masih menunjukkan tren tekanan dan telah bergerak di atas level Rp17.850 per dolar AS. Stabilitas nilai tukar akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlanjutan pemulihan manufaktur ke depan," kata Shinta.

Konsumsi Domestik Jadi Penopang 

Apindo memperkirakan sektor-sektor yang ditopang konsumsi domestik berpotensi menjadi motor pertumbuhan apabila PMI Manufaktur RI mampu bergerak lebih konsisten ke zona ekspansi dalam beberapa bulan mendatang. 

Industri makanan dan minuman, serta sektor yang terkait dengan konsumsi rumah tangga dan investasi domestik diperkirakan memiliki prospek yang lebih baik.

Selain itu, sektor yang memiliki tingkat kandungan lokal lebih tinggi dinilai akan lebih resilien terhadap tekanan nilai tukar dan ketidakpastian global.

Sebelumnya, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan stabilisasi pada Mei 2026 setelah sebelumnya sempat mengalami kontraksi. S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) naik dari 49,1 pada April menjadi 50,0 pada Mei. 

Kenaikan ini menandakan kondisi operasional industri mulai stabil di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat tajam serta gangguan pasokan bahan baku yang masih berlanjut.

”Ekonomi manufaktur Indonesia masih berada di bawah tekanan pada Mei, karena produksi tertahan oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan ketersediaan input,” kata Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam keterangannya, Selasa (2/6). 

Data S&P Global menunjukkan bahwa tekanan biaya pada industri manufaktur Indonesia meningkat sangat tajam pada Mei. Inflasi biaya input tercatat sebagai kenaikan tertajam kedua sejak survei dimulai pada April 2011, hanya sedikit di bawah rekor yang terjadi pada September 2013.

Lonjakan biaya ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan input produksi. Kondisi tersebut membuat beban operasional perusahaan meningkat signifikan, sekaligus menekan kemampuan produksi di sejumlah sektor manufaktur.

“Meski perusahaan mencatat kenaikan penjualan yang lebih kuat, hal ini lebih banyak mencerminkan upaya pelanggan untuk menambah stok di tengah gangguan harga dan pasokan,” ujar Bhatti. 

Perusahaan-perusahaan juga melaporkan kesulitan mendapatkan bahan baku, yang mendorong penurunan aktivitas pembelian serta pemanfaatan stok yang sudah ada.

Di sisi produksi, output manufaktur Indonesia kembali mengalami penurunan pada Mei, meskipun laju kontraksinya lebih moderat dibandingkan bulan sebelumnya. Ini menjadi bulan ketiga berturut-turut produksi mengalami penurunan.

Penurunan output terutama dipengaruhi oleh mahalnya biaya bahan baku serta keterbatasan pasokan yang menghambat proses produksi. Dalam kondisi tersebut, perusahaan juga mengandalkan persediaan barang jadi untuk memenuhi pesanan yang masuk.

Data S&P Global menunjukkan bahwa tekanan biaya pada industri manufaktur Indonesia meningkat sangat tajam pada Mei. Inflasi biaya input tercatat sebagai kenaikan tertajam kedua sejak survei dimulai pada April 2011, hanya sedikit di bawah rekor yang terjadi pada September 2013.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina