Kamar Dagang ASEAN Hong Kong Resmi Berdiri, Perkuat Ekspansi Bisnis Regional
HONG KONG – Kamar Dagang ASEAN - Hong Kong (ASEAN Chamber and Commerce) resmi berdiri pada Selasa (30/6). Peluncuran yang berlangsung dalam rangkaian Greater Bay Area (GBA)-ASEAN Summit 2026 itu menjadi langkah baru untuk memperkuat integrasi industri, investasi, dan rantai pasok antara kawasan Greater Bay Area, Hong Kong, dan negara-negara ASEAN.
Pembentukan kamar dagang tersebut dilakukan di tengah meningkatnya hubungan ekonomi antara ASEAN dan kawasan Greater Bay Area yang kini menjadi salah satu pusat manufaktur, teknologi, dan inovasi terbesar di dunia. Organisasi ini diharapkan menjadi platform untuk mempertemukan pelaku usaha, investor, regulator, dan institusi dari kedua kawasan.
Ketua Hong Kong-ASEAN Foundation sekaligus Founding Patron Chamber of Commerce (Hong Kong) Daryl Ng mengatakan hubungan ekonomi antara ASEAN dan Greater Bay Area terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, manufaktur, hingga transisi energi. ASEAN merupakan rumah bagi hampir 700 juta penduduk dengan populasi yang muda dan dinamis.
"ASEAN juga memainkan peran yang semakin penting dalam rantai pasok global, manufaktur maju, dan transisi menuju energi yang lebih hijau," kata Daryl dalam pidato pembukaannya pada GBA-ASEAN Summit 2026.
Menurut dia, Greater Bay Area yang mencakup Hong Kong, Makau, dan sembilan kota di Provinsi Guangdong telah berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi paling dinamis di Cina dengan produk domestik bruto melampaui RMB15 triliun pada tahun lalu. Populasi kawasan tersebut diperkirakan akan melampaui 90 juta jiwa pada akhir dekade ini.
Greater Bay Area merupakan salah satu kawasan paling dinamis di Cina dengan jumlah penduduk yang diperkirakan melampaui 90 juta jiwa pada akhir dekade ini. Kawasan ini menjadi pusat perdagangan, logistik, dan inovasi berkat ekosistem perusahaan teknologi yang kuat serta talenta-talenta terbaik di Cina.
Daryl menilai Hong Kong memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara ASEAN dan Greater Bay Area. Pada 2025, nilai perdagangan ekspor antara kedua kawasan yang difasilitasi melalui Hong Kong mencapai HK$ 680 miliar. Sementara itu, ASEAN telah menjadi salah satu dari tiga mitra dagang terbesar Provinsi Guangdong.
"Hong Kong, yang berada di antara Greater Bay Area dan ASEAN, memiliki posisi ideal untuk berperan sebagai jembatan yang menghubungkan dua kawasan ekonomi besar ini," kata Daryl.
Ia juga menyoroti meningkatnya minat perusahaan-perusahaan ASEAN untuk memanfaatkan Hong Kong sebagai pusat penggalangan dana internasional. Salah satu contohnya adalah PT Merdeka Gold Resources Tbk asal Indonesia yang baru saja mencatatkan saham sekundernya atau dual listing di Bursa Hong Kong.
"Salah satu perusahaan tambang emas terbesar dan dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, berhasil melakukan pencatatan sekunder di Bursa Efek Hong Kong untuk memanfaatkan pasar modal Hong Kong yang kuat serta memperluas basis investornya dengan menarik investor institusi internasional di Hong Kong," ujar Daryl.
Selain perusahaan asal Indonesia, sejumlah perusahaan ASEAN lain, termasuk perusahaan logistik Malaysia dan perusahaan bioteknologi berbasis Singapura, juga tengah mempertimbangkan pencatatan saham di Hong Kong pada tahun ini.
Perkuat Konektivitas Bisnis dan Industri
Lebih jauh Daryl mengatakan Kamar Dagang ASEAN Hongkong akan berfokus pada penguatan konektivitas bisnis, investasi, dan kerja sama industri di antara Hong Kong, Greater Bay Area, dan ASEAN.
"ASEAN Chamber of Commerce akan mendukung penuh dan bekerja sama erat dengan para mitra untuk menghubungkan pelaku usaha, institusi, dan para pemimpin guna mengubah konsep serta gagasan menjadi peluang nyata yang saling menguntungkan bagi Greater Bay Area, Hong Kong, dan ASEAN," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Publisher South China Morning Post Tammy Tam mengatakan kawasan Asia kini menjadi tujuan utama arus modal global di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional. Ia menyebut saat ini modal dan pelaku bisnis internasional mulai mengalihkan perhatian kepada stabilitas dan potensi besar yang ditawarkan Asia.
"Stabilitas diperlukan untuk membangun, mobilitas diperlukan untuk memperluas skala, dan kelincahan diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan. Asia memiliki ketiga hal tersebut," kata Tammy.
Menurut dia, penyelenggaraan GBA-ASEAN Summit 2026 dirancang untuk menciptakan koridor baru bagi investasi, inovasi, dan kolaborasi industri. Selain itu juga mendorong pertukaran talenta antara ASEAN dan Greater Bay Area.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya konektivitas sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi kawasan. Ia menyebut Indonesia meyakini bahwa konektivitas merupakan fondasi bagi kemakmuran bersama.
"Infrastruktur tidak lagi sekadar jalan, pelabuhan, bandara, atau jalur kereta api, tetapi juga tentang menghubungkan pasar, mendorong inovasi, memperkuat rantai pasok, dan menciptakan peluang bagi masyarakat," kata AHY dalam pidato virtualnya.
AHY menyatakan kerja sama antara ASEAN dan Greater Bay Area perlu difokuskan pada tiga bidang utama, yakni pembangunan infrastruktur berkelanjutan, kolaborasi inovasi dan industri, serta penguatan konektivitas dan kemudahan berusaha lintas negara.
"Jembatan yang kita bangun hari ini, baik secara fisik maupun kelembagaan, akan membentuk masa depan kawasan kita selama beberapa dekade mendatang," ujar AHY.
Peluncuran ASEAN Chamber of Commerce (Hong Kong) menjadi penanda semakin eratnya integrasi ekonomi antara ASEAN dan Greater Bay Area. Kerja sama ini sekaligus membuka peluang baru bagi investasi, pengembangan industri, dan penguatan rantai pasok regional di Asia.