Ekspor Produk Nikel Tsingshan di RI Tersendat Akibat Kebijakan Inspeksi Baru
Ekspor sejumlah produk nikel dari fasilitas peleburan (smelter) milik Tsingshan Holding Group Co. di Indonesia dilaporkan mengalami gangguan di tengah ketidakpastian terkait kebijakan inspeksi baru yang diterapkan pemerintah.
Melansir Bloomberg (29/7), kondisi itu membuat perusahaan menghentikan sementara pengiriman beberapa produk logam sambil menunggu kejelasan aturan.
Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Tsingshan telah menghentikan pemuatan ekspor mixed hydroxide precipitate (MHP), yakni produk antara nikel yang banyak digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik dan mengandung kobalt.
Sedangkan ekspor produk lainnya, termasuk nickel pig iron (NPI), juga dilaporkan mengalami gangguan meski belum sepenuhnya dihentikan.
Gangguan itu terjadi setelah pemerintah meningkatkan pemeriksaan terhadap pengiriman mineral untuk mendeteksi kemungkinan kandungan unsur tanah jarang (rare earth) dan unsur radioaktif seperti uranium.
Dalam prosesnya, otoritas bea cukai meminta pengujian laboratorium tambahan sehingga memperlambat proses ekspor sejumlah produk logam sepanjang bulan ini.
Menurut sumber tersebut, keputusan Tsingshan menghentikan sementara ekspor MHP merupakan langkah antisipatif perusahaan, bukan karena adanya perintah langsung dari pemerintah.
Hingga berita ini ditulis, pihak Tsingshan maupun Badan Komunikasi Pemerintah Indonesia belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang disampaikan melalui surat elektronik.
Indonesia selama ini menerapkan berbagai kebijakan perdagangan dan hilirisasi untuk memperkuat penguasaan negara atas sumber daya mineral sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Pemerintah sebelumnya telah melarang ekspor bijih nikel dan bauksit mentah guna mendorong investasi smelter di dalam negeri.
Pada tahun lalu, pemerintah juga menerbitkan aturan yang mewajibkan pemanfaatan mineral tanah jarang untuk kebutuhan domestik diprioritaskan sebelum dapat diperdagangkan.
Gangguan ekspor dari Tsingshan berpotensi menimbulkan dampak terhadap rantai pasok nikel global. Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia, sedangkan logam tersebut menjadi bahan baku utama industri baja nirkarat (stainless steel) dan baterai kendaraan listrik.
Jika hambatan ekspor berlangsung dalam waktu lama, ketersediaan bahan baku baterai maupun berbagai produk nikel di pasar internasional berpotensi menjadi lebih ketat.
Di sisi lain, pemerintah dinilai memberikan sinyal yang beragam terkait kebijakan tersebut. Dalam sebuah unggahan video di Instagram awal pekan ini, pemerintah menyampaikan bahwa aparat, termasuk unsur militer, tidak seharusnya menghambat ekspor produk logam hanya karena dugaan kandungan mineral tanah jarang. Pasalnya, komoditas tersebut hingga kini belum termasuk dalam daftar mineral yang dikenai pembatasan ekspor.