Blok M Bersolek Lagi, MRT Siapkan Terminal Modern dengan Apartemen dan Hotel

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Spt.
Bus melintas di kawasan Terminal Blok M di Jakarta, Selasa (16/7/2024).
3/8/2026, 08.10 WIB

Terminal Blok M tak lagi sekadar menjadi titik naik turun penumpang. PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah menyiapkan transformasi kawasan ini menjadi terminal modern yang menyatukan transportasi publik, ruang publik, hingga pengembangan properti dalam satu kawasan terintegrasi. 

TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, memberikan sedikit gambaran mengenai rencana pengembangan kawasan tersebut. Ia menyebut nantinya akan ada "ultimate Blok M". 

“Yang cukup berhasil TOD kami itu di Blok Hub di mana waktu itu juga 2 tahun ini kami kelola dan Alhamdulillah sekarang bisa jadi salah satu tempat yang sangat fantastis,” kata Sagita dalam acara bertajuk “Pedestrian Deck Dukuh Atas: Menghubungkan Kawasan, Menggerakkan Kota” di Jakarta, Kamis (30/7). 

Upaya MRT Jakarta menghidupkan kembali kawasan Blok M dimulai dari revitalisasi Taman Martha Christina Tiahahu menjadi Taman Literasi. 

Sagita mengatakan revitalisasi ruang publik di Blok M yang dimulai pada 2022 menjadi salah satu proyek percontohan MRT Jakarta dalam mengembangkan kawasan berorientasi transit. Menurutnya, ruang publik tidak hanya berfungsi sebagai area resapan air, tetapi juga sebagai ruang terbuka yang mendukung aktivitas masyarakat perkotaan.

Saat itu MRT Jakarta mengusulkan akan menambahkan area komersial di dalam kawasan tersebut agar dapat membiayai operasional dan pemeliharaan ruang publik, seperti kebersihan, listrik, dan perawatan fasilitas. Dengan skema ini, pengelolaan infrastruktur tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah daerah.

Menurut Sagita, konsep tersebut terbukti berhasil, terutama karena tingginya kebutuhan masyarakat terhadap ruang terbuka untuk beraktivitas setelah pandemi. Torehan itu kemudian menjadi salah satu referensi bagi pengembangan ruang publik di kawasan lain.

“Mungkin saat ini kami sedang fokus ke pengembangan ultimate blok M dan pedestrian deck,” kata Sagita. 

Sejalan dengan pengembangan tersebut, Sagita mengatakan MRT Jakarta akan melanjutkan transformasi kawasan melalui revitalisasi Terminal Blok M. Proyek ini akan mengusung konsep mixed-use dengan menghadirkan apartemen, hotel, serta fungsi komersial lainnya. Menurutnya, revitalisasi itu diharapkan menjadikan Terminal Blok M sebagai percontohan terminal modern yang terintegrasi.

“Di mana nanti cita-citanya mudah-mudahan ini menjadi sebuah percontohan terminal yang lebih modern, yang bisa dijadikan percontohan untuk pengembangan terminal ke depan,” katanya. 

Sementara itu, pengamat transportasi Universitas Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno mengatakan pengembangan kawasan ultimate Blok M atau Blok M Hub yang mencakup proyek fungsi campuran seperti apartemen, hotel, dan fasilitas komersial perlu dirancang lewat pendekatan berorientasi transit murni. 

Menurutnya, kunci utamanya harus memastikan pembangunan fisik tidak mengesampingkan atau memperburuk fungsi utama kawasan sebagai transportasi publik. Ia juga menilai pengembangan ini diharapkan bisa memperkuat fungsi terminal dan fungsi transit secara keseluruhan.

Djoko pun menyoroti ada beberapa aspek yang harus diprioritaskan. Misalnya seamless integration. Adanya rute transit langsung, akses pengguna MRT, Transjakarta, dan angkutan kota ke peron atau shelter terminal tidak boleh diputar-putar melintasi area komersial atau pertokoan secara paksa. 

“Integrasi harus intuitif, serba indoor, terlindung dari hujan/panas, dan ramah disabilitas dengan memenuhi standar aksesibilitas universal,” kata Djoko kepada Katadata.co.id, Jumat (31/7). 

Selain itu, ia menyebut penempatan terminal operasional bus di area bawah tanah dan fasilitas pejalan kaki/penghubung di atas harus memisahkan sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki.

Djoko juga menegaskan perlindungan dan kenaikan kapasitas operasional terminal. Misalnya layanan operasional tidak terganggu, luas lahan untuk area pergerakan jalur tunggu, dan kapasitas bus dan angkutan pengumpan tidak boleh tergerus demi menambah space komersial.

Ia pun menyebut perlunya fasilitas pengemudi dan operasional modern. Lalu menyediakan ruang istirahat yang layak untuk pengemudi bus, sistem navigasi/jadwal digital, hingga fasilitas pengisian daya untuk armada bus listrik.

Djoko mengatakan pengelolaan parkir juga harus menjadi perhatian dalam revitalisasi Blok M. Menurutnya, kapasitas parkir kendaraan pribadi perlu dibatasi agar tidak ada kemacetan. Sementara fasilitas park and ride harus diprioritaskan bagi pengguna yang beralih ke MRT Jakarta atau Transjakarta, bukan sekadar parkir pengunjung ritel.

Dorong Pengguna Transportasi Umum 

Djoko mengatakan integrasi proyek mixed-use dengan Terminal Blok M diproyeksikan akan menaikan jumlah pengguna transportasi umum. Salah satunya melalui penerapan konsep kota 24 jam, yang menggabungkan fungsi hunian, hotel, perkantoran, dan komersial sehingga menciptakan pola perjalanan dua arah. 

Ia menyebut mobilitas masyarakat tidak hanya terkonsentrasi pada jam sibuk, tetapi berlangsung sepanjang hari sehingga mendorong penggunaan MRT dan Transjakarta.

“Malam dan akhir pekan, penghuni apartemen, tamu hotel, dan pengunjung area komersial dan hiburan tetap memanfaatkan transportasi umum untuk mobilitas. Ini mencegah terminal menjadi kawasan mati di luar jam kerja,” kata Djoko.

Selain itu, Djoko menilai kenaikan penggunaan transportasi umum juga harus didukung fasilitas first-mile dan last-mile. Menurutnya, kawasan Blok M perlu dilengkapi dengan layanan pengumpan yang terintegrasi. Misalnya ada titik drop-off yang tertata, hingga infrastruktur ramah pejalan kaki dan pesepeda agar akses menuju stasiun maupun terminal menjadi lebih mudah dan nyaman.

Namun Djoko juga menilai kemudahan akses juga menjadi faktor penting dalam mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum. Ia menyebut akses yang nyaman dan aman dari hunian atau kawasan komersial menuju Stasiun MRT maupun Terminal Transjakarta akan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi.

“Juga integrasi taman publik seperti Taman Literasi dan area kegiatan komunitas menjadikan transit sebagai bagian dari lifestyle, bukan sekadar keharusan mobilitas harian,” ujar dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila