Pabrik-Pabrik Asal Cina Bakal Pindah ke Madura: Cokelat hingga Matras

Dok. Mowilex
Ilustrasi.
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
6/8/2026, 10.02 WIB

Sejumlah pabrik asal Cina berencana merelokasi fasilitas produksinya ke Madura, Jawa Timur. Industri yang akan dipindahkan berasal dari klaster manufaktur di Guangdong yang tidak lagi diizinkan beroperasi di lokasi asalnya.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Ma'ruf Maulana mengatakan, relokasi tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Guangdong ASEAN Industrial Park International Cooperation Alliance dengan Wiraraja Madura Industrial Park. Penandatanganan kerja sama itu disaksikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wali Kota Guangzhou, dan Bupati Bangkalan. 

“Yang pasti kawasan industri di Cina ini klusternya itu sebagian yang sudah tidak bisa di Cina akan pindah ke Madura. Jadi suatu kluster yang pemerintahnya memang sudah tidak diizinkan lagi berdiri pabrik di situ, pindah satu kluster ke Madura,” kata Ma’ruf, kepada wartawan, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

Ma’ruf mengatakan, ia masih mendata perusahaan-perusahaan yang akan direlokasi sehingga belum dapat mengungkapkan jumlah maupun nilai investasinya. Namun, ia memastikan beberapa sektor industri telah menyatakan minat untuk masuk ke Madura.

“Nah, ini berapa investasi yang pindah, kita lagi mendata perusahaan-perusahaan apa. Yang pasti ada pabrik poliester, cokelat, terus pabrik matras kasur,” katanya.

Ia mengatakan, industri yang akan masuk tersebut merupakan sektor padat karya. Relokasi dilakukan karena sejumlah industri di Cina kini mulai beralih ke proses produksi yang lebih mengandalkan otomatisasi dan akal imitasi atau artificial intelligence (AI), sehingga sebagian industri padat karya memilih berekspansi ke luar negeri.

“Kalau tenaga kerja sudah pasti padat karya, investasi padat karya. Karena investasi yang klaster itu pindah ke Jawa Timur, ke Madura, memang investasi yang padat karya. Sama-sama kami ketahui di Cina sudah memakai teknologi AI,” katanya.

Ma’ruf menjelaskan, pembangunan Wiraraja Madura Industrial Park telah memasuki tahap persiapan. Menurutnya, perusahaan pengelola telah berdiri, proses pembebasan lahan telah dilakukan, serta sejumlah perizinan dasar telah dikantongi.

“Kami akan mengejar perizinan-perizinan turunannya. Kalau bisa selesai perizinannya tahun ini kami kebut tahun ini karena investasinya sudah ada,” kata dia.

Adapun pemerintah menggandeng Cina dalam pengembangan Kawasan Industri Wiraraja Madura. Hal itu ditandai dengan ditandatanganinya nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) pengembangan kawasan industri modern di Kabupaten Bangkalan, Madura pada Rabu (5/8). 

Prosesi penandatanganan kerja sama ini mencakup ditekennya MoU antara PT Wiraraja Madura International dengan Guangzhou Zhanjiang Industrial Transfer Cooperation Park Management Committee serta penandatanganan Agreement on Joining the Guangdong ASEAN Industrial Park International Cooperation Alliance dengan Wiraraja Madura Industrial Estate.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto yang menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman tersebut menyampaikan bahwa Pemerintah akan terus memperkuat kerja sama dengan berbagai negara mitra strategis guna mempercepat pengembangan kawasan industri, membuka lapangan kerja serta menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah.

“Indonesia punya program Two Countries Twin Parks (TCTP) yang terus akan kita dorong. Kawasan di Madura ini kedepannya juga merupakan kawasan heavy industry Indonesia, Petrokimia (Gresik). Jadi nanti dengan adanya Kawasan Industri Bangkalan ini akan menjadi seimbang,” kata Airlangga, dalam keterangannya, Rabu (5/8). 

Airlangga menyebut, pengembangan Kawasan Industri Wiraraja Madura akan semakin melengkapi hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok yang selama ini terus berkembang, baik melalui peningkatan investasi maupun perdagangan bilateral.

“Ini akan melengkapi kerja sama antara Indonesia dan Cina. Karena Indonesia dan Cina juga sudah punya bilateral swap arrangement (Bilateral Currency Swap Arrangement atau BCSA) yang sampai dengan US$50 miliar dolar. Harapannya bisa juga trade menggunakan currency masing-masing sehingga tidak tergantung kepada currency yang lain,” kata dia

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman