Menhub: Sejumlah Penerbangan di Kalimantan Batal Imbas Kebakaran Hutan
Menteri Perhubungan Duddy Purwagandhi mengatakan sejumlah jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan karena terdampak kebakaran hutan dan lahan di Pulau Kalimantan. Hal itu karena asap dari kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan sudah menggangu jarak pandang.
“Tadi seperti yang disampaikan, besok ada pembatalan penerbangan karena jarak pandang sudah tidak memungkinkan. Jadi memang pada beberapa titik, khususnya di Kalimantan Barat itu terganggu,” kata Duddy saat ditemui di kompleks DPR RI, Kamis (20/8).
Dia menyebut salah satu bandara yang mengalami pembatalan penerbangan pesawat adalah Bandar Udara Internasional Supadio, Kalimantan Barat.
Duddy mengaku hingga saat ini dia belum mengetahui berapa penerbangan yang dibatalkan dan bandara yang terdampak karena karhutla. Dia masih menanti perkembangan informasi terkait hal tersebut.
“Kami mengingatkan kepada seluruh maskapai untuk berhati-hati, selalu memonitor informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait cuaca. Itu yang paling penting,” ujarnya.
Berdasarkan data BMKG, saat ini terdapat 1.404 titik panas yang ada di Indonesia. Pemerintah saat ini menjadikan 4 provinsi sebagai wilayah prioritas penanganan El-Nino. Pertama, Kalimantan Barat dengan 521 titik panas, Kalimantan Tengah 424 titik, Papua Selatan 144 titik, dan Kalimantan Timur 103 titik.
BMKG mengatakan hingga 10 hari kedepan masih minim adanya potensi pertumbuhan awan di sebagian besar wilayah Indonesia. Utamanya Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, dan sebagian Papua.
BMKG memprediksi titik panas di Indonesia akan meningkat pada September 2026. Pemerintah telah melakukan serangkaian modifikasi cuaca di 4 wilayah di Indonesia. Mulai dari Pekanbaru Riau, Jakarta, Palangkaraya Kalimantan Tengah, dan Pontianak Kalimantan Barat.
Berdampak ke Negara Tetangga
Karhutla di Indonesia menyedot perhatian negara tetangga Malaysia dan Singapura setelah asap dari sejumlah titik panas di Sumatra dan Kalimantan mulai memengaruhi kualitas udara di beberapa wilayah mereka.
Menurut pemberitaan Kantor Berita Nasional Malaysia, Bernama, kondisi kabut asap mendorong pemerintah negara bagian Sarawak menutup sementara sekolah di sejumlah wilayah setelah kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak (JPNS), menutup seluruh sekolah di bawah kewenangannya di Kuching, Padawan, Serian, dan Samarahan selama dua hari. Penutupan tersebut berlaku pada 20 dan 21 Agustus sebagai langkah pencegahan akibat kualitas udara yang terdampak kabut asap.
Selama penutupan sekolah, pemerintah Sarawak kembali menerapkan Pembelajaran dan Pengajaran di Rumah (PdPR) untuk memastikan proses pembelajaran siswa tetap berjalan. JPNS juga menyatakan akan menyampaikan perkembangan terkait masa penutupan dan pembukaan kembali sekolah melalui saluran resmi pemerintah.
“Keputusan tersebut diambil sebagai langkah pencegahan untuk melindungi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan siswa serta warga sekolah, khususnya dari risiko paparan udara yang tidak sehat,” kata JPNS dalam keterangan tertulis, seperti dikutip Bernama pada Kamis (20/8).