Harga Beras Naik saat Stok Melimpah, Mentan Janji Bakal Turun Pekan Ini

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.
Pedagang menata beras yang dijualnya di Pasar Gondangdia, Jakarta, Jumat (4/7/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan harga beras meningkat di tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran pada Juni 2025 dengan rata-rata harga di penggilingan mencapai Rp12.994 per kg atau naik 2,05 persen secara month to month dan naik sebesar 3,62 persen secara year on year.
21/9/2026, 14.08 WIB

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui harga beras di pasaran mengalami kenaikan. Pemerintah menargetkan harga beras kembali turun pada pekan ini.

“Insyaallah turun,” kata Amran saat ditemui di Jakarta Selatan, Senin (21/9).

Amran mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan harga beras. Salah satunya melalui operasi pasar untuk menambah pasokan beras di tengah kenaikan harga.

Selain itu, pemerintah menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat dan menyiapkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sekitar 1 juta ton.

Perum Bulog juga disebutnya akan memasok lebih banyak stok beras, di tengah kelangkaan yang terjadi di jaringan ritel. “Premium kita kirim ke retail,” ujarnya.

Meski demikian, ia menyatakan kondisi saat ini bukan menunjukkan kelangkaan beras secara keseluruhan. Sebab, stok beras nasional masih berada pada level yang cukup tinggi. Stok beras Bulog saat ini tercatat sekitar 4,6 juta ton. Pemerintah juga memiliki kapasitas gudang sewa sekitar 2 juta ton untuk menampung beras.

Meski stok tinggi, Amran mengatakan pemerintah tetap akan mengintervensi pasar untuk memastikan pasokan beras tersedia dan harga kembali terkendali.

Ia juga menyinggung persoalan beras fortifikasi yang sebelumnya menjadi perhatian pemerintah. Amran mengatakan terdapat produk yang diduga tidak memenuhi ketentuan dan pemerintah telah mengambil sejumlah langkah, mulai dari pencabutan izin, moratorium hingga proses hukum.

Terkait dugaan praktik yang merugikan konsumen, Amran menyebut terdapat beras yang seharusnya dijual sekitar Rp13.000 per kilogram tetapi dapat mencapai Rp57.000 per kilogram di pasaran. Ia mengklaim kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerugian konsumen hingga Rp90 triliun.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina