Nusron Mundur dari Golkar, Diskusi dengan Bahlil Sebelum OTT dan Geledah di ATR

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/tom.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi II DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati
21/9/2026, 15.11 WIB

Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid mengatakan sudah tidak menjadi pengurus di Partai Golongan Karya atau Golkar. Namun Nusron tidak menjelaskan secara eksplisit apakah dirinya masih menjadi kader dari Partai Beringin atau tidak.

Nusron menyampaikan dirinya telah mendiskusikan keanggotaannya dengan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia pada tahun lalu. Namun Nusron tidak menanggapi pertanyaan tentang alasan untuk keluar dari Partai Kuning dan statusnya saat ini.

"Selebihnya lebih baik tanyakan kepada Pak Bahlil selaku ketua umum. Kami sudah pernah diskusi masalah itu," kata Nusron saat keluar dari Gedung DPR, Senin (21/9).

Berdasarkan pantauan Katadata, Nusron mulai berjalan menjauh ruang sidang Badan Legislasi setelah ditanyakan status keanggotaannya di Golkar. Saat itu juga, belasan pewarta mulai menyerubungi Nusron untuk tetap menanyakan hal yang sama.

Kerumunan jurnalis yang terus menanyakan keanggotaan Nusron di Golkar dan pengetahuannya tentang kasus dugaan korupsi di Kementerian ATR akhirnya menutup akses keluar Gedung DPR. Raut wajah Nusron yang tadi sempat tertawa melihat situasi seketika menjadi datar saat menghadapi pewarta.

"Mohon maaf, saya punya privasi untuk jalan. Boleh tidak saya jalan," katanya.

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar menyatakan Nusron Wahid sudah mengundurkan diri dari kepengurusan partai berlambang pohon beringin tersebut. Sekretaris Jenderal Partai Golkar M Sarmuji bahkan mengatakan Nusron sudah mundur sejak beberapa bulan lalu.

Nusron Wahid sebelumnya menjabat Ketua Bidang Keagamaan dan Kerohanian DPP Partai Golkar. Sarmuji mengatakan, kini Nusron sudah menjadi kader biasa di partainya.

"Sudah lama (mundur). Seingat saya lebih dari enam bulan lalu," kata Sarmuji pada Sabtu (19/9) dikutip dari Antara.

Sarmuji mengatakan, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) itu mengajukan langsung pengunduran dirinya kepada Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia. Namun, ia tak mengetahui apa alasan Nusron mengundurkan diri. "Mungkin ingin fokus ke hal lain," katanya.

Nusron tak terlihat saat komisi antirasuah menggeledah kantornya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (17/9). Seorang pegawai yang enggan disebutkan namanya mengatakan sang Menteri tidak terlihat di kantor sejak pagi menjelang penggeledahan.

Bahkan politikus Partai Golkar itu juga dua hari tak menghadiri rapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sebagai gantinya Wakil Menteri ATR Ossy Dermawan yang menggantikan Nusron untuk rapat bersama parlemen.

Di tengah hilangnya Nusron, muncul kabar ia akan menanggalkan jabatannya di kabinet. Dari informasi yang dihimpun Katadata.co.id, mantan anggota DPR itu dikabarkan akan segera mengundurkan diri meski waktunya belum diketahui.

Sedangkan politikus Partai Golkar yang juga Anggota Komisi I DPR Dave Laksono mengaku belum mengetahui kabar tersebut. "Saya belum dengar," kata Dave kepada Katadata.co.id, Jumat (18/9).

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol Kementerian ATR Uunk Din Parunggi mengatakan belum ada pernyataan pengunduran diri oleh Menteri Nusron dalam waktu dekat. Uunk mengatakan, saat ini pihaknya fokus dalam melakukan pelayanan masyarakat bidang pertanahan.

Politisi Golkar tersebut baru terlihat di publik pasca salat Jumat di kompleks Kementerian ATR pada Jumat (18/9). Nusron berencana untuk mengikuti dan membantu proses penegakan hukum yang dilakukan KPK saat ini.

"Belum ada pernyataan pengunduran diri oleh Menteri Nusron. Pengubahan susunan menteri itu haknya Presiden," kata Uunk di kantornya, Jakarta, Jumat (18/9).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief