ASEAN dan Amerika Serikat (AS) sepakat memperkuat kerja sama ekonomi dan investasi melalui rencana kerja baru Kerangka Kerja Sama Perdagangan dan Investasi ASEAN-AS (TIFA) periode 2026–2027. Penguatan rantai pasok menjadi salah satu fokus kerja sama di tengah tantangan ekonomi dan perdagangan global.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan antara menteri-menteri ekonomi ASEAN dan Perwakilan Dagang AS (USTR) di Manila, Filipina, Ahad (20/9). Pertemuan dipimpin bersama oleh Menteri Perdagangan Filipina Ma. Cristina Roque dan Deputi Perwakilan Dagang AS Rick Switzer.
Dalam pernyataan bersama, para menteri ekonomi ASEAN dan AS menyatakan rencana kerja tersebut merupakan kelanjutan dari implementasi TIFA periode 2025–2026. Kerja sama sebelumnya telah menghasilkan sejumlah capaian di bidang ekonomi digital, fasilitasi perdagangan, hak kekayaan intelektual, praktik regulasi yang baik, dan pertanian.
Penguatan rantai pasok menjadi salah satu agenda penting dalam kerja sama terbaru tersebut. ASEAN dan AS menegaskan komitmen untuk menjaga dan memperluas kemitraan perdagangan dan investasi, termasuk dengan mempertahankan keterbukaan koridor perdagangan dan memperkuat rantai pasok.
Langkah tersebut membuka ruang bagi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, untuk meningkatkan keterlibatan dalam rantai pasok yang terhubung dengan pasar AS. Terlebih, nilai perdagangan barang dua arah ASEAN-AS mencapai US$550,5 miliar pada 2025 berdasarkan data awal ASEAN.
Besarnya nilai perdagangan tersebut menunjukkan hubungan ekonomi ASEAN dan AS memiliki skala yang signifikan. Selain perdagangan, investasi langsung AS di kawasan ASEAN mencapai US$30 miliar pada 2025.
Rencana kerja TIFA 2026–2027 mencakup sejumlah sektor yang berpotensi mendukung penguatan rantai pasok dan perdagangan kawasan. Sektor tersebut antara lain ekonomi digital, UMKM, fasilitasi perdagangan, hak kekayaan intelektual, standar, serta praktik regulasi yang baik.
Kerja sama juga mencakup ketenagakerjaan, pertanian, perlindungan konsumen dan persaingan usaha, serta manajemen perdagangan strategis. Berbagai bidang tersebut berkaitan dengan kemampuan pelaku usaha dan industri dalam memenuhi standar serta terhubung dengan pasar internasional.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama perdagangan ASEAN-AS dapat menjadi ruang untuk meningkatkan keterlibatan industri nasional dalam rantai pasok regional. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha memenuhi standar perdagangan, meningkatkan daya saing, serta memanfaatkan akses pasar yang tersedia.
Para menteri ekonomi ASEAN dan AS juga menilai TIFA, yang telah ditandatangani sejak 2006, semakin relevan sebagai landasan kerja sama ekonomi kedua pihak. Mereka sepakat menjadikan TIFA sebagai platform utama untuk memajukan kemitraan ekonomi ASEAN-AS pada masa mendatang.
Selain TIFA, pertemuan tersebut mengakui peran US-ASEAN Connect Series dalam mendorong kerja sama digital, mendukung UMKM, serta mempertemukan pelaku bisnis, investor, dan pengusaha.
Para menteri juga mengakui kontribusi ASEAN-US Partnership Programme dalam memberikan bantuan teknis dan peningkatan kapasitas di negara-negara ASEAN.
Kerja sama ASEAN-AS juga diarahkan pada penguatan sistem perdagangan multilateral. Para menteri menegaskan pentingnya bekerja sama dalam mendorong penyempurnaan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta menyambut inisiatif plurilateral untuk mengatasi berbagai persoalan perdagangan.
Dengan nilai perdagangan yang telah mencapai lebih dari US$550 miliar, penguatan TIFA menunjukkan upaya ASEAN dan AS untuk menjaga hubungan ekonomi tetap terbuka sekaligus memperkuat rantai pasok di kawasan. Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi ruang untuk meningkatkan peran industri dan pelaku usaha nasional dalam perdagangan dan investasi yang terhubung dengan pasar AS.