Industri Obat dan Makanan Berpotensi Sumbang Rp10 Ribu Triliun per Tahun
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengklaim industri obat dan makanan memiliki potensi kontribusi sekitar Rp10 ribu triliun setiap tahun terhadap perekonomian nasional seiring besarnya jumlah pelaku usaha yang bergerak dalam sektor tersebut.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan jumlah perusahaan sektor farmasi dan pangan di Indonesia ada sebanyak 45.000 perusahaan besar dan 4,2 juta UMKM.
"Ada yang revenue ratusan juta per tahun, ada yang untung ratusan miliar, bahkan ada triliunan hingga ratusan triliun. Kalau digabung semuanya dari 4,3 juta pelaku usaha tentu angka Rp10 ribu triliun itu bukan khayalan," ujarnya saat ditemui usai menjadi pembicara dalam kuliah umum di Universitas Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis.
Ikrar menuturkan BPOM tidak hanya berkaitan dengan pengawasan keamanan dan mutu obat serta makanan, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
UMKM pangan olahan yang telah terdaftar di BPOM saat ini tercatat lebih dari 2.900 usaha menengah, 4.600 usaha kecil, dan 7.900 usaha mikro.
Menurut dia, kontribusi BPOM terhadap perekonomian nasional Rp10 ribu triliun atau 558,32 miliar dolar AS tersebut setara dengan 35 hingga 40 persen nilai produk domestik bruto Indonesia yang mencapai Rp23 ribu triliun.
Ekosistem industri farmasi dan pangan yang sangat besar tersebut membuat BPOM harus mempercepat layanan regulasi dan perizinan guna mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi.
"Kami berkomitmen untuk melakukan transformasi memberi dukungan, bukan hanya dari riset development, bukan hanya dari edukasi, tapi termasuk hilirisasi," kata Ikrar.
Lebih lanjut dia menyampaikan optimalisasi sektor obat dan makanan dapat berperan dalam mewujudkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen, sehingga membantu Indonesia terlepas dari jebakan negara berkembangan menjadi negara maju.
Saat ini, BPOM terus berupaya mempercepat proses pemberian izin agar pelaku usaha dapat segera memenuhi ketentuan regulasi, memasarkan produk, serta meningkatkan skala bisnis dari mikro menjadi kecil.
"Strategi kami turun gunung untuk mendukung Presiden Prabowo, mendukung pemerintah, untuk keluar dari negara berpenghasilan menengah menjadi negara maju," pungkas Ikrar.