Toyota TMMIN Bidik Ekspor ke Pasar Amerika Latin di Tengah Konflik Timur Tengah
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) membidik pasar Amerika Latin untuk memperluas ekspor kendaraan produksi Indonesia, di tengah penurunan pengiriman ke kawasan Timur Tengah akibat konflik yang terjadi di wilayah tersebut.
Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto mengatakan Asia masih menjadi kawasan tujuan ekspor utama Toyota Indonesia, disusul Amerika Latin. Sebelumnya, Timur Tengah menjadi salah satu pasar penting bagi perusahaan, tetapi konflik di kawasan itu memengaruhi pengiriman kendaraan.
“Di Timur Tengah (ekspor kendaraan) akan menurun. Namun karena situasinya seperti itu, negara lain naik, sehingga total ekspor kita tetap naik 2,5%,” kata Nandi saat ditemui di Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, Tangerang, Rabu (14/10).
Nandi mengatakan, meskipun total ekspor nasional mengalami penurunan sekitar 10%, ekspor Toyota Indonesia justru tumbuh 2,5%. Toyota juga berkontribusi sekitar 60% terhadap total ekspor mobil utuh atau Completely Built-Up (CBU) nasional pada 2026.
Perusahaan berharap dapat mengekspor lebih dari 300 ribu unit kendaraan sepanjang tahun ini. Adapun model yang menjadi andalan ekspor Toyota Indonesia antara lain Avanza, Fortuner, Kijang Innova, serta Yaris Cross, termasuk varian hybrid.
Menurut Nandi, kendaraan hybrid memiliki peluang pasar di berbagai negara, termasuk Amerika Latin. Teknologi ini dinilai dapat membantu konsumen menghemat bahan bakar tanpa bergantung pada infrastruktur pengisian daya seperti kendaraan listrik berbasis baterai.
“Untuk pasar hybrid, sebenarnya hampir semua negara cocok, tergantung modelnya. Negara-negara seperti di Amerika Latin ingin efisiensi bahan bakar, tetapi tidak perlu infrastruktur,” ujarnya.
Toyota Jajaki Peluang Ekspor Suku Cadang ke Meksiko
Selain memperluas pasar kendaraan utuh, Toyota Indonesia juga menjajaki peluang ekspor suku cadang otomotif ke Meksiko.
Nandi mengatakan, perusahaan telah bertemu dengan Duta Besar Meksiko untuk membahas peluang perdagangan, termasuk upaya mengatasi kendala kuota dan memperluas akses pasar.
Menurut dia, ekspor kendaraan ke suatu negara juga membuka kebutuhan pengiriman suku cadang untuk mendukung pemeliharaan kendaraan selama masa penggunaannya. Ia menyebut produsen perlu menyediakan suku cadang setidaknya selama 15 tahun.
“Kalau kita ekspor satu mobil Avanza saja ke Meksiko, kita harus menyediakan suku cadang Avanza itu selama 15 tahun. Itu sebenarnya suatu potensi yang luar biasa,” kata Nandi.
Ia menilai peluang tersebut dapat memperluas kontribusi ekspor otomotif Indonesia, tidak hanya melalui penjualan kendaraan baru, tetapi juga melalui kebutuhan pasar purnajual.
Di tengah upaya memperluas ekspor, Nandi juga menyoroti kondisi pasar otomotif domestik yang cenderung stagnan. Menurut dia, pertumbuhan pasar dalam negeri penting untuk mendukung keberlanjutan industri otomotif nasional.
Nandi mengatakan Toyota tidak meminta kebijakan khusus, melainkan mengharapkan kebijakan yang adil agar pasar domestik dapat tumbuh dan memberikan kepastian bagi pelaku industri.
“Yang paling penting bagaimana mengamankan pasar domestik, atau membuat pasar domestik tumbuh. Itu menjadi hal yang penting,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia masih menjadi basis produksi Toyota untuk sejumlah segmen kendaraan, termasuk kendaraan penumpang dan kendaraan niaga. Karena itu, pertumbuhan pasar domestik diharapkan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekspor.