DSI Siapkan Portal NADI, Ekspor SDA Akan Diawasi Dari Hulu ke Hilir

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.
Presiden Direktur Danantara Sumberdaya Indonesia Luke Mahony menyampikan paparannya usai peluncuran PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Senin (24/8/2026).
6/11/2026, 20.26 WIB

Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai perantara tunggal ekspor sumber daya alam di Indonesia memperkenalkan Portal National Data & Intelligence (NADI). 

Chief Executive Officer DSI, Luke Thomas Mahony, mengatakan sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan data perdagangan dan melacak transaksi komoditas sejak meninggalkan indonesia hingga pembayaran hasil ekspornya kembali kedalam negeri.

“Hal yang penting adalah menganalisis data yang ada, serta memeriksa dokumen kontrak dan faktur yang terkait” ujar Luke dalam acara Sosialisasi Perkembangan Implementasi DHE SDA dan Tata Kelola Ekspor SDA Strategis yang diadakan di Kantor Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Jumat (6/11).

Luke mengatakan, integrasi data ini penting dilakukan untuk penguatan tata kelola ekspor di indonesia yang lebih profesional dan aman sehingga mampu meningkatkan kepercayaan khalayak.

"Ini berkaitan dengan penguatan tata kelola melalui mekanisme yang transparan dan akuntabel untuk mencegah transfer pricing dan under-invoicing atas sumber daya alam Indonesia” ucap Luke.

Ia menjelaskan, portal tersebut akan mulai dioperasikan (go live) pada 1 Januari 2027 mendatang. Adapun sebelum tahap pengoperasian tersebut, Luke mengingatkan para eksportir untuk mengikuti briefing teknis pada 15 Desember dan registrasi perusahaan eksportir akan mulai dibuka pada 15 Desember 2026.

"Pada 1 Januari, sistem akan mulai beroperasi. Portal NADI akan digunakan untuk mengunggah dokumen PEB dan dokumen akhir kargo” ujar Luke.

Sementara ini, Luke menyebutkan bahwa NADI telah melalui proses uji coba dengan melibatkan 50 perusahaan di tahap pertama dan baru saja memulai tahap keduanya dengan menggaet 50 perusahaan tambahan.

"Ke-100 eksportir tersebut mencakup sekitar 50% dari nilai komoditas yang menjadi cakupan program” kata Luke.

Kemudian ia juga menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 340 kontrak yang sedang diunggah dan diuji coba melalui sistem. Luke juga memastikan bahwa setiap eksportir akan disuguhi dengan sistem pelayanan dan edukasi yang mumpuni agar mampu memaksimalkan portal NADI dalam kegiatan ekspor.

“Kami telah bekerja sama erat dengan rekan-rekan kami di Bea cukai, LNSW (Lembaga National Single Window), untuk memastikan bahwa semua orang memahami cara menggunakan portal tersebut," kata Luke.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.