Respons Perang Dagang, Cina Lebih Pilih Jualan Ketimbang Balas Serangan AS
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Lin Jian mengatakan Cina memilih untuk berdagang lebih banyak dengan mitra-mtra ketimbang membalas serangan tarif impor yang dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Selain itu, Cina akan semakin menjadi magnet yang kuat untuk investasi dunia.
"Menghadapi ketidakpastian eksternal, Cina akan tetap berkomitmen untuk bergandengan tangan daripada 'melempar pukulan'," kata Lin Jian sepertu dikutip Reuters, Selasa (15/4).
Sebelumnya, Cina kembali membalas kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dengan menaikkan tarif atas produk AS dari sebelumnya 84% menjadi 125%. Kebijakan ini mulai berlaku pada 12 April 2025.
Kementerian Keuangan Cina menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan respons atas keputusan Washington yang terus meningkatkan tekanan dagang terhadap Beijing. “Sekalipun AS terus menaikkan tarif, hal itu sudah tidak masuk akal secara ekonomi dan hanya akan menjadi lelucon dalam sejarah ekonomi dunia,” kata Kementerian Keuangan China.
Menurut kementerian tersebut, tarif yang tinggi membuat produk asal AS tak lagi kompetitif di pasar Cina. Dengan tarif setinggi ini, tidak ada lagi pasar bagi barang-barang AS di Cina. "Jika AS terus menaikkan tarif, Cina akan mengabaikan tindakan tersebut," katanya.
Kondisi ini memperpanjang perang dagang yang sudah berlangsung selama seminggu terakhir. Setelah AS memberikan kelonggaran tarif selama 90 hari untuk puluhan negara mitra dagangnya, Cina justru tidak termasuk dalam daftar pengecualian tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyayangkan sikap Cina yang dinilai enggan membuka ruang dialog. “Sayangnya, pihak China tampaknya tidak ingin datang dan bernegosiasi, padahal mereka adalah pelanggar terbesar dalam sistem perdagangan internasional,” kata Bessent.