Trump Naikkan Lagi Tarif Impor Jadi hingga 245%, Cina Sebut Tidak Takut Perang

ANTARA FOTO/REUTERS/Kevin Lamarque/File Foto
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, penasehat keamanan nasional AS John Bolton dan Presiden China Xi Jinping menghadiri jamuan makan malam setelah ktt pemimpin negara G20 di Buenos Aires, Argentina, pada 2018
Penulis: Desy Setyowati
16/4/2025, 19.52 WIB

Presiden Amerika Donald Trump kembali menaikkan tarif impor resiprokal atau timbal balik untuk Cina dari 125% menjadi hingga 245%. Merespons hal ini, perwakilan Tiongkok menyatakan mereka tidak takut perang dagang.

"Cina sekarang menghadapi tarif hingga 245% atas impor ke Amerika Serikat sebagai akibat dari tindakan pembalasannya," kata Gedung Putih, dengan alasan keamanan nasional, dikutip dari The Economic Times, Rabu (16/4).

"Baru minggu ini, Cina menangguhkan ekspor enam logam tanah jarang berat, serta magnet tanah jarang. Ini untuk memutus pasokan ke sektor-sektor seperti otomotif, kedirgantaraan, semikonduktor, dan manufaktur militer,” Gedung Putih mencatat.

Pemerintah juga merujuk pada larangan ekspor galium, germanium, dan antimon oleh Tiongkok sebelumnya, material ini digunakan untuk pembuatan gadget hingga dipakai pada sistem energi.

"Presiden telah menjelaskan posisinya tentang Cina dengan cukup jelas. Meskipun saya memiliki pernyataan tambahan yang baru saja ia sampaikan kepada saya di Ruang Oval,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan dalam jumpa pers.

"Bola ada di tangan Cina. Tiongkok perlu berurusan dengan kami. Kami tidak perlu membuat kesepakatan dengan mereka. Tidak ada perbedaan antara Cina dan negara lain, kecuali mereka (Cina) jauh lebih besar,” Leavitt menambahkan.

Cina soal Tarif Impor 245%: Kami Tidak Takut Perang

Kementerian Luar Negeri Cina mendesak wartawan untuk bertanya kepada Pemerintah AS. "Anda dapat menanyakan tentang angka ini ke pihak AS untuk mendapatkan jawaban,” kata dia dikutip dari China Daily.

Lin mengatakan perang tarif impor diprakarsai oleh Amerika. Tiongkok telah mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan, untuk melindungi hak dan kepentingan sah, serta memastikan keadilan dan kesetaraan internasional, yang ‘sepenuhnya masuk akal dan sah’.

Ia menggarisbawahi bahwa posisi Cina selalu jelas dan tidak ada pemenang dalam perang tarif dan perang dagang.

"Cina tidak bersedia berperang (dalam perang semacam itu), dan tidak takut berperang," katanya.

"Jika AS sungguh-sungguh ingin menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi, maka Amerika harus menghentikan pendekatannya yang memberikan tekanan ekstrem, berhenti mengancam dan memeras, serta terlibat dalam dialog dengan pihak Tiongkok atas dasar kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan," Lin menambahkan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.