Anwar Ibrahim Mediasi Perundingan Thailand-Kamboja, Perwakilan AS dan Cina Hadir

ANTARA FOTO/Media Center KTT ASEAN 2023/Rommy Pujianto/foc.
PM Malaysia Dato Seri Anwar Ibrahim memberi pandangan saat Retreat Session KTT ke-43 ASEAN 2023 di Jakarta Convention Center, Selasa (5/9/2023).
28/7/2025, 15.57 WIB

Pelaksana Tugas (Plt) Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai, dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet sepakat menggelar pertemuan di Kuala Lumpur, Malaysia pada Senin (28/7). Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 15.00 atau 14.00 WIB bagian upaya mengakhiri bentrokan yang meruncing sejak 24 Juli lalu.

Juru Bicara Pemerintah Thailand, Jirayu Houngsub, mengatakan pertemuan dua pimpinan negara tersebut berlangsung di Kantor Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Anwar bertindak sebagai fasilitator dialog dalam kapasitasnya sebagai Ketua ASEAN.

Laporan Reuters melaporkan para duta besar Amerika Serikat dan Cina untuk Malaysia juga hadir dalam pertemuan tersebut. Adapun Inisiatif perdamaian ini didorong oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menggunakan ancaman tarif dagang agar gencatan senjata tercapai.

Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mengatakan bahwa perundingan tersebut diselenggarakan bersama oleh Malaysia dan Amerika Serikat. Selain itu, Cina juga akan berpartisipasi di dalamnya.

"Tujuan pertemuan ini adalah untuk mencapai 'gencatan senjata' segera, yang diprakarsai oleh Presiden Donald Trump dan disetujui oleh Perdana Menteri Kamboja dan Thailand," ujar Hun Manet dalam sebuah unggahan di X saat ia berangkat menuju perundingan.

Namun, Plt Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai meragukan  keseriusan Kamboja menjelang negosiasi di Malaysia. "Kami tidak yakin dengan Kamboja, tindakan mereka sejauh ini mencerminkan ketidaktulusan dalam menyelesaikan masalah," ujarnya kepada para wartawan sebelum keberangkatannya ke Malaysia.

Phumtham Wechayachai menilai Kamboja telah melanggar hukum internasional. Ia mengatakan, pertemuan ini merupakan langkah untuk mewujudkan konflik dapat diselesaikan secara damai. “Tidak seorang pun ingin melihat kekerasan yang berdampak pada warga sipil,” ujarnya.

Kamboja membantah tuduhan Thailand bahwa mereka telah menembaki sasaran sipil. Mereka mengatakan bahwa Thailand telah membahayakan nyawa masyarakat terutama di wilayah perbatasan.

Thailand telah mengambil sikap bahwa gencatan senjata harus dikaitkan dengan penyelesaian sengketa bilateral, penarikan pasukan, dan penghentian penggunaan senjata. Sebaliknya, Kamboja menyatakan terbuka terhadap penghentian konflik tanpa syarat.

Juru Bicara Pemerintah Thailand, Jirayu Houngsub, mengatakan perundingan ini bertujuan untuk membuka ruang dialog dan mendengarkan berbagai proposal yang dapat mendorong terciptanya kembali perdamaian secara konstruktif

"Pemerintah Thailand tetap berkomitmen untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayah negara. Setiap jengkalnya,” kata Jirayu, sebagaimana diberitakan oleh Bangkok Post pada Senin (28/7).

Konflik bersenjata di kawasan perbatasan Thailand-Kamboja yang terjadi belakangan ini telah menewaskan lebih dari 30 orang dan membuat lebih dari 150 ribu warga sipil mengungsi di kedua belah pihak. Thailand telah melaporkan 22 korban jiwa, termasuk delapan tentara. Di sisi lain, Kamboja mengonfirmasi 13 kematian, termasuk lima personel militer.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu