AS Tawarkan Imbalan Rp 169 Miliar untuk Setiap Informasi tentang Pemimpin Iran
Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga US$ 10 juta atau setara Rp 169 miliar untuk informasi tentang lokasi pemimpin baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Merujuk pernyataan Rewards for Justice (RFJ) Departemen Luar Negeri AS hadiah juga berlaku untuk informasi tentang petinggi Iran lainnya.
"(hadiah) untuk informasi tentang para pemimpin kunci Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan cabang-cabang komponennya. Individu-individu ini memimpin dan mengarahkan berbagai elemen IRGC, yang merencanakan, mengatur, dan melaksanakan terorisme di seluruh dunia," kata RFJ dalam sebuah pernyataan yang dikutip Sabtu (14/3).
Menurut RFJ, hadiah tersebut berlaku untuk informasi mengenai beberapa individu, termasuk Ayatollah Mojtaba Khamenei, Wakil Kepala Staf di Kantor Pemimpin Tertinggi (SLO) Ali Asghar Hejazi, Penasihat SLO Ali Larijani, Menteri Dalam Negeri Brigjen Eskandar Momeni, dan Menteri Intelijen dan Keamanan Esmail Khatib.
Sebelumnya, pemerintah Iran memperingatkan masyarakatnya mengenai ancaman yang disebut sebagai “kolom kelima” di dalam negeri di tengah meluasnya konflik kawasan. Istilah kolom kelima dalam konteks politik dan militer merujuk pada kelompok di dalam suatu negara yang secara diam-diam membantu pihak lawan dari luar.
Mengutip laporan Al Jazeera pada Minggu (8/3), otoritas Iran menyampaikan serangkaian peringatan bahwa aparat keamanan akan bertindak tegas terhadap siapa pun yang dinilai merugikan keamanan nasional atau membantu pihak yang dianggap sebagai musuh dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kementerian Intelijen Iran bahkan menyebut telah menemukan dugaan aktivitas sejumlah orang yang dituduh sebagai “tentara bayaran Amerika-Zionis”, yang dilaporkan memotret lokasi jatuhnya rudal dan mengirimkan rekaman tersebut ke jaringan satelit serta situs daring yang berbasis di luar negeri.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, menyebabkan kerusakan, korban sipil. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian ditanggapi Iran dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Putra Ali Khamenei, Mojtaba, selanjutnya terpilih sebagai pemimpin baru Iran. Otoritas Iran tidak mengumumkan perubahan lain dalam kepemimpinan militer negara itu.
AS dan Israel awalnya mengklaim serangan "pendahuluan" mereka diperlukan untuk melawan ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun belakang AS menyatakan serangan untuk memperjelas tujuannya bahwa mereka ingin melihat perubahan rezim di Iran.
