Serangan Ukraina Ikut Guncang Pasar Energi: 40% Ekspor Minyak Rusia Terjegal
Krisis energi semakin pelik. Rusia yang jadi "alternatif" pemasok energi dunia di tengah perang Timur Tengah, kesulitan mendistribusikan minyak. Serangan intensif Ukraina ke infrastruktur energi Rusia menyebabkan "tersanderanya" sekitar 40 persen ekspor minyak negara tersebut atau setara 2 juta barel per hari.
Berdasarkan laporan Reuters dan sederet media asing lainnya, sepanjang Maret, Ukraina meningkatkan serangan ke fasilitas minyak strategis Rusia. Tiga pelabuhan ekspor utama menjadi sasaran, yakni Novorossiysk di Laut Hitam, serta Primorsk dan Ust-Luga di Laut Baltik. Serangan tersebut memicu kebakaran besar dan menghentikan sementara aktivitas ekspor di sejumlah terminal.
Ukraina juga dilaporkan melakukan penyitaan terhadap kapal-kapal tanker yang mengangkut minyak Rusia. Ini menambah pukulan terhadap ekspor yang sudah terganggu oleh kerusakan pada pipa Druzhba -- jalur darat untuk ekspor minyak Rusia ke Eropa.
Sejak Januari 2026, distribusi minyak melalui pipa Druzhba dilaporkan terhenti akibat kerusakan infrastruktur di wilayah Ukraina. Pada puncaknya, jalur ini mampu mengalirkan lebih dari 1 juta barel minyak per hari dan menjadi salah satu urat nadi pasokan energi Eropa sejak era Soviet.
Infrastruktur energi menjadi medan perang utama termasuk dalam perang Rusia-Ukraina. Sebelumnya, sepanjang 2024 hingga 2025, Ukraina menyasar kilang-kilang minyak Rusia. Penyerangan terhadap infrastruktur energi merupakan upaya untuk mengeringkan keuangan Rusia. Ekspor energi adalah tulang punggung keuangan Rusia, yang artinya penyokong utama pembiayaan perang.
Di tengah terganggunya jalur-jalur ekspor minyak ke Eropa, ekspor alternatif ke Asia tidak sepenuhnya mampu menggantikan. Keterbatasan infrastruktur membuat Rusia kesulitan mengalihkan pasokan secara cepat. Akibatnya, sebagian ekspor tertahan dan kapal tanker menumpuk di sejumlah pelabuhan.
Pendapatan Minyak Meroket, Tapi Terpojok oleh Serangan Ukraina
Di tengah kerusakan infrastruktur, pendapatan harian Rusia dari ekspor minyak meningkat tajam. Berdasarkan laporan Kyiv24, rata-rata pendapatan harian Rusia tercatat melonjak dua kali lipat sepanjang tiga pekan Maret, dari sekitar US$135 juta atau sekitar 2,3 triliun menjadi US$270 juta atau sekitar 4,6 triliun.
Lonjakan pendapatan ini karena harga minyak yang meroket imbas penutupan Selat Hormuz dan pelonggaran sanksi dari Amerika Serikat terhadap minyak Rusia. Saat berita ini ditulis, harga minyak Brent masih bertengger di kisaran US$100 per barel. Harga terakhir kali mencapai level ini ketika dimulainya invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 lalu.