Trump Ancam Pidana ke Jurnalis yang Memberitakan Keamanan Nasional

Youtube The White House
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan pidatonya mengenai perkembangan perang di Iran.
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati
7/4/2026, 11.15 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald J Trump mengancam hukuman pidana terhadap jurnalis yang memberitakan pencarian anggota militer Amerika Serikat di Iran. Trump menilai pemberitaan tersebut telah membocorkan keamanan negara kepada pemerintah Tanah Persia pada waktu konflik.

Trump menyampaikan pihaknya akan menggali siapa sumber informasi yang didapatkan jurnalis tersebut. Trump memberikan ancaman pidana jika jurnalis tersebut tidak mau memberikan informasi terkait sumber tersebut.

"Ini adalah masalah keamanan nasional. Orang yang menulis berita itu akan masuk penjara jika dia tidak mau bicara siapa sumber yang ia dapatkan. Saya pikir semua orang mengerti bahwa mereka telah menempatkan misi penyelamatan ini dalam risiko besar," kata Trump dalam saluran resmi Gedung Putih, Selasa (7/4).

Trump menyampaikan telah mengetahui siapa jurnalis yang pertama kali melaporkan misi penyelamatan tersebut. Namun Trump tidak menjelaskan lebih lanjut media maupun nama jurnalis yang dimaksud.

Seperti diketahui, militer Iran telah berhasil menembak jatuh jet tempur F-15 yang dikendalikan dua tentara Negeri Abang Sam pekan lalu, Kamis (2/4). Pemerintah Amerika Serikat melaporkan berhasil menyelamatkan satu dari dua orang operator F-15 akhir pekan lalu, Sabtu (4/4), setelah pesawat tersebut jatuh di kawasan Iran.

Trump mengatakan pemberitaan dari seorang jurnalis membuat misi penyelamatan seorang anggota militer AS lainnya diketahui militer Iran. Alhasil, pemerintah Tanah Persia kini menerbitkan hadiah bagi siapapun yang berhasil menangkap pilot F-15 tersebut.

"Jadi, selain menghadapi lawan militer yang sangat berbakat, tangguh, dan jahat, kami juga harus menghadapi jutaan orang yang mencoba mendapatkan hadiah itu saat ini," katanya.

Karena itu, Trump menilai pemberitaan terkait misi penyelamatan di kawasan Iran telah membahayakan pilot F-15 dan ratusan orang dalam misi penyelamatan tersebut. Walau demikian, Trump menyebutkan pihaknya telah berhasil menyelamatkan semua pilot F-15 yang jatuh tertembak tersebut.

Trump mencatat pihaknya telah melakukan misi penerbangan tempur di kawasan udara Iran sebanyak 10.000 kali selama 37 hari terakhir. Misi tersebut membuat Negeri Abang Sam berhasil menyerang lebih dari 13.000 target sejak akhir Februari 2026.

Alhasil, Trump berpendapat jatuhnya F-15 pada pekan lalu merupakan keberuntungan yang didapatkan oleh militer Iran. Sebab, insiden pekan lalu merupakan kali pertama jet tempur AS jatuh akibat serangan musuh.

Seperti diketahui, tiga pesawat F-15 milik Amerika Serikat jatuh tertembak oleh Kuwait pada bulan lalu. Trump menilai hal tersebut bukan bentuk agresi negara sahabat karena disebabkan oleh ketidakmampuan penggunaan misil anti-pesawat.

"Ini adalah rekor misi penerbangan tempur yang tidak tertandingi dalam sejarah operasi udara militer. Merupakan satu kehormatan besar bagi saya bisa terlibat di dalamnya," ujarnya.

Dilansir dari NBC News, Direktur Eksekutif Knight First Amendment Institute Universitas Columbia Jameel Jaffer menilai media memiliki hak amandemen pertama Amerika Serikat. Secara rinci, amandemen tersebut memberikan hak pada seluruh warga Negeri Abang Sam untuk mengemukakan pendapat.

Secara rinci, Jaffer menjelaskan organisasi media di AS memiliki hak untuk menerbitkan berita yang memiliki kepentingan publik. Menurutnya, kepentingan publik yang dimaksud termasuk informasi yang cenderung disembunyikan oleh pemerintah.

"Ancaman Presiden Trump yang memaksa jurnalis membuka informasi sumber menimbulkan perhatian serius terhadap kebebasan pers. Sebab, jurnalis bergantung pada kemampuan mereka untuk melindungi identitas sumber," kata Jaffer.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief