Gencatan Senjata AS - Iran Rapuh Usai Serangan Kembali Meluas ke UEA
Gencatan senjata Perang Iran semakin rapuh usai Uni Emirat Arab (UEA) menanggapi serangan rudal dan drone yang disebut mereka berasal dari Iran. Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat menggagalkan serangan terhadap tiga kapal di Selat Hormuz.
Iran dan AS saling serang di saat negosiator berupaya mengakhiri Perang Iran. Sedangkan Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata masih berlaku, namun tetap mengancam pengeboman jika Teheran tak menerima kesepakatan.
"Mereka (Iran) harus mengerti: Jika kesepakatan itu tidak ditandatangani, mereka akan mengalami banyak kesulitan,” kata Trump kepada wartawan di Washington D.C., Kamis (7/5).
Pesawat tempur UEA disebut terlibat dalam operasi serangan militer AS terhadap Dermaga Bahman di Pulau Qeshm, Iran, pada Kamis (7/5), malam waktu setempat. Operasi militer teranyar ini merupakan respons atas serangan terhadap kapal perang AS.
Para pejabat AS menyebut langkah itu sebagai bagian dari operasi bela diri di kawasan Timur Tengah. Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, menyatakan kapal perusak USS Truxton, USS Rafael Peralta, dan USS Mason diserang menggunakan sejumlah rudal, drone, dan kapal kecil.
Washington kemudian membalas serangan tersebut dengan operasi militer terhadap Iran. Donald Trump, mengatakan tidak ada kerusakan terhadap tiga kapal AS. "Tetapi kerusakan besar terjadi pada para penyerang Iran," tulis Trump di media sosial, sebagaimana diberitakan oleh The Washington Post pada Jumat (8/5),
Trump menyatakan kapal-kapal perusak AS berhasil melintasi Selat Hormuz. Namun, ia tidak menjelaskan apakah masih menganggap gencatan senjata dengan Iran yang berlaku sejak awal April tetap berjalan setelah rangkaian serangan terbaru.
Seorang pejabat pertahanan AS yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan bahwa “Selama Presiden tidak mengatakan sebaliknya,” maka gencatan senjata tersebut masih berlaku.
Di sisi lain, Iran menuduh pesawat militer AS melancarkan serangan sepihak terhadap kapal tanker Iran. Teheran mengklaim pesawat AS mundur setelah Iran melancarkan serangan rudal balasan.
Selain Pulau Qeshm, ledakan juga dilaporkan terjadi di dekat kota pesisir Bandar Abbas. Sejumlah kantor berita Iran turut melaporkan sistem pertahanan udara diaktifkan di Teheran dan beberapa kota lainnya.
Serangan di Qeshm disebut menyasar Dermaga Bahman yang merupakan fasilitas komersial dan layanan publik. Sebelum perang pecah, kapal feri secara rutin melayani jalur pelayaran di sekitar pulau tersebut.
The Washington Post pada Jumat (8/5) menuliskan bahwa UEA menjadi negara Teluk Persia yang paling banyak menerima serangan Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu. Salah satu serangan terjadi pada Selasa (5/5), ketika rudal dan drone Iran dilaporkan menghantam fasilitas energi di wilayah UEA hingga memicu kebakaran.
Emirates News Agency pada Senin (4/5), melaporkan Pemerintah UEA mengutuk keras serangan rudal dan drone Iran yang menyasar fasilitas sipil di negara tersebut. Serangan itu menyebabkan tiga warga negara India terluka. UEA menganggap Iran sepenuhnya bertanggung jawab atas serangan dan dampak yang ditimbulkan.
Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan bahwa serangan-serangan ini merupakan eskalasi yang berbahaya, tindakan agresi yang tidak dapat diterima, dan ancaman langsung terhadap keamanan, stabilitas, dan integritas teritorial UEA, yang melanggar prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
UEA menegaskan tidak akan mentolerir ancaman apa pun terhadap keamanan dan kedaulatannya. Mereka juga menyatakan memiliki hak untuk merespons serangan tersebut guna melindungi keamanan nasional, integritas wilayah, serta keselamatan warga dan penduduknya sesuai hukum internasional.
Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran mengatakan AS telah melanggar gencanatan senjata karena melancarkan serangan yang menargetkan dua kapal tanker minyak Iran di dekat Selat Hormuz pada Kamis malam. AS juga disebut melakukan serangan udara terhadap daerah sipil di Iran selatan.
Kantor berita pemerintah Iran, Tasnim, memberitakan bahwa AS menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran yang berlayar dari perairan pesisir Iran di wilayah Jask menuju Selat Hormuz. Serangan itu juga menyasar kapal lain yang memasuki Selat Hormuz di lepas pelabuhan Fujairah di UEA.
Kementerian Luar Negeri Iran juga mengutuk kerja sama antara UEA dengan AS dan Israel. Iran memperingatkan bahwa tindakan tersebut mengancam perdamaian dan stabilitas regional, sekaligus mendesak UEA untuk mematuhi prinsip bertetangga baik.
Iran juga membantah keterangan UEA mengenai peluncuran rudal dan drone dari wilayah Iran ke arah UEA. Teheran menegaskan bahwa operasi defensif mereka hanya bertujuan menghadapi agresi militer AS. Iran tidak akan ragu untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk membela kepentingan dan keamanan nasional.