AS Gempur Iran dan Israel Serang Lagi Lebanon, Upaya Damai Terancam
Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa (9/6) waktu setempat, setelah Presiden Donald Trump mengatakan Teheran telah menembak jatuh helikopter Apache AS di Selat Hormuz. Sementara itu, Israel menyerang kota pelabuhan bersejarah Tyre di Lebanon, yang menewaskan delapan orang.
Helikopter Apache disebut ditembak jatuh oleh drone serang Iran satu arah, menurut seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim.
Trump mengatakan dua pilot AS tidak terluka akibat insiden itu. Meski begitu, Amerika Serikat melakukan serangan ke Iran mulai pukul 17.00 ET. "Misi ini merupakan respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak beralasan,” kata militer AS di X dikutip dari Reuters, Rabu (10/6) waktu Indonesia.
Beberapa sistem pertahanan udara dan sistem radar Iran di sekitar Selat Hormuz menjadi sasaran, menurut seorang pejabat AS.
"Saya percaya tanggapannya harus sangat kuat, sangat dahsyat, dan itulah yang terjadi," kata Trump kepada ABC News.
Sementara itu, media pemerintah Iran mengutip sumber militer yang mengatakan bahwa tidak ada operasi militer udara ofensif yang dilakukan di Selat Hormuz dalam 24 jam sebelumnya. Pernyataan ini menunjukkan tidak ada upaya menyerang helikopter AS di selat ini.
Iran pun berencana membalas serangan AS. “Akan ada respons tegas jika terjadi permusuhan baru oleh musuh,” kata sumber di militer itu.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan memang ada baku tembak di Selat Hormuz meski tidak secara langsung membahas insiden helikopter.
Namun, karena AS melakukan serangan, ia memastikan Iran akan membalas. “Iran tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa tanggapan,” cuitan dia di X setelah serangan pertama AS.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pulau Qeshm di Selat Hormuz diserang dan proyektil dipastikan mengenai kota pelabuhan Sirik di selat itu. Suara ledakan terdengar di Bandar Abbas di dekatnya, dan kemudian di sekitar wilayah Jask, dekat pintu masuk selat.
Israel Kembali Serang Lebanon
Dalam konflik paralel, Israel menyerang Tyre di Lebanon selatan, menewaskan sedikitnya delapan orang. Ini serangan paling mematikan di kota itu sejak pertempuran meletus di Lebanon pada awal Maret.
Video yang diverifikasi oleh Reuters menunjukkan puing-puing berserakan di jalan di lokasi serangan.
Menteri Urusan Sosial Lebanon, Haneen Sayed, mengatakan bahwa sebagian Tyre telah menjadi salah satu tempat terakhir yang relatif mudah diakses di mana penduduk dapat menemukan tempat berlindung, tinggal bersama kerabat, atau mengakses layanan dasar.
Perintah evakuasi oleh Israel, kata dia, menimbulkan kekhawatiran serius tentang akses kemanusiaan dan dapat mempersulit organisasi bantuan untuk menjangkau mereka yang membutuhkan karena orang-orang mengungsi.
Direktur Rumah Sakit Jabal Amel di Tyre, Wael Mroue, mengatakan setidaknya selusin korban luka, termasuk perempuan, tiba setelah serangan di al-Masaken al-Shaabiyah.
"Kami lelah. Kami takut. Tetapi kami tetap tinggal," katanya kepada Reuters, seraya menambahkan bahwa staf rumah sakit dan keluarga mereka semua tinggal di rumah sakit karena intensitas serangan di dekatnya.
Penolakan Israel untuk mengakhiri perang melawan Hizbullah, telah menghambat upaya Trump untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran.
Iran dan Israel saling melancarkan serangan udara awal pekan ini, menewaskan dua orang di Teheran.
Teheran telah lama mengatakan bahwa setiap kesepakatan perdamaian dengan Washington sebagian bergantung pada berakhirnya pertempuran di Lebanon.
Israel tidak pernah menghentikan serangan ke Lebanon, yang telah menewaskan ribuan orang, dengan mengatakan bahwa konflik ini harus diperlakukan secara terpisah dari gencatan senjata AS - Iran.
Pada saat yang sama, Teheran terus memblokir sebagian besar pengiriman melalui Selat Hormuz, yang sebelum perang membawa seperlima minyak mentah dan gas alam cair dunia. Washington telah memberlakukan blokade sendiri terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz meningkat sangat signifikan, tetapi akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali ke aliran energi normal setelah perang berakhir.