Trump Murka Kebocoran Stok Amunisi AS di Tengah Ancaman ke Iran
Presiden Donald Trump dikabarkan marah akibat bocornya informasi terkait menipisnya stok amunisi yang membuat Amerika Serikat tampak lemah pada saat yang krusial. Bocornya informasi tersebut terjadi di tengah upaya Trump yang terus menerus mengancam Iran dengan serangan lebih besar jika tak segera menyepakati perjanjian.
Mengutip CNN, topik tersebut menjadi sorotan utama dalam rapat kabinet pekan lalu di Camp David. Berdasarkan informasi dari enam sumber CNN yang merupakan pejabat senior AS, Trump, yang merasa kesal, menyinggung pemberitaan media mengenai rendahnya stok amunisi.
Banyak dari sumber tersebut mengatakan bahwa Trump sebenarnya sudah lama mengetahui potensi masalah terkait amunisi itu dan sebenarnya tidak terkejut oleh laporan-laporan tersebut. Namun, ia marah karena informasi itu terungkap pada titik krusial konflik dan terus menjadi isu yang semakin ramai dibicarakan publik di saat ia ingin menunjukkan posisi yang kuat, ujar mereka.
"AS memiliki persediaan 'amunisi' dalam jumlah sangat besar, terutama untuk jenis-jenis tertentu," kata Trump di Truth Social pada Kamis (6/8).
Trump menyebut, amunisi dalam jumlah besar sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan. Perusahaan-perusahaan pertahanan sedang membangun jumlah pabrik dan fasilitas produksi terbanyak dalam sejarah negara kita.
Meski demikian, Trump tampaknya mengakui bahwa setidaknya sebagian informasi yang beredar mengenai stok amunisi tersebut memang akurat. Ia menyatakan bahwa pemerintahannya akan mengupayakan hukuman penjara jangka panjang bagi siapa pun yang terbukti membocorkan informasi tersebut ke publik.
Belakangan, di Ruang Oval, ia mengakui bahwa pasokan amunisi tertentu memang lebih terbatas, seraya menambahkan bahwa terdapat pasokan yang praktis tak terbatas untuk senjata-senjata yang teknologinya tidak terlalu canggih.
Para pejabat Gedung Putih menyatakan, kemarahan Trump tidak ditujukan secara khusus kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Dalam unggahan lain di Truth Social Kamis (6/8), Trump menyatakan dirinya sangat puas dengan kinerja Pete Hegseth.
"Dia tidak pernah menyalahkan Pete. Masalah ini sepenuhnya soal pihak yang membocorkan informasi," ujar seorang pejabat.
Menurut para pejabat, Trump telah menugaskan Departemen Kehakiman untuk melacak individu-individu di dalam pemerintahannya yang membocorkan informasi tersebut.
Kemarahannya memuncak dalam beberapa minggu terakhir setelah sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa persediaan amunisi militer AS sedang menipis.
CNN melaporkan minggu ini bahwa militer telah menghabiskan hampir empat perlima dari inventaris rudal THAAD-nya dibandingkan dengan jumlah sebelum perang, serta sekitar separuh dari rudal pencegat Patriot-nya sejak awal perang; informasi ini diperoleh dari dua sumber yang mengetahui laporan inventaris terkini.
Center for Strategic and International Studies memperkirakan Amerika Serikat memiliki sekitar 2.200 rudal Patriot (dari dua varian paling modern sistem tersebut) dan 452 rudal THAAD dalam persediaannya sebelum konflik dengan Iran dimulai.
Angka-angka tersebut tidak hanya mengkhawatirkan para pejabat Amerika. Para pemimpin di kawasan Teluk telah menyuarakan kekhawatiran mengenai bagaimana kekurangan sistem pertahanan udara dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam menangkal potensi serangan balasan Iran jika Trump memutuskan untuk meningkatkan eskalasi konflik yang sedang berlangsung.
Beberapa negara tersebut bergantung pada sistem pertahanan udara AS. Para pemimpin Teluk mengakui bahwa kekurangan persediaan dapat menghambat kemampuan mereka sendiri untuk mencegat serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran yang masuk, menurut keterangan sejumlah pejabat.
Seorang pejabat regional yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan, bahwa Iran telah menyampaikan kepada negara-negara Teluk bahwa serangan baru dari Amerika akan berujung pada serangan balasan terhadap fasilitas energi atau fasilitas desalinasi di seluruh kawasan. Trump telah berbicara dengan para pemimpin Qatar dan Arab Saudi mengenai konflik ini selama sepekan terakhir.
Di tengah kemarahan Trump terhadap narasi yang muncul mengenai persediaan senjata tersebut, para pejabat Gedung Putih menduga kebocoran informasi berasal dari pejabat anti-perang di dalam pemerintahan yang bertekad mendorong Trump untuk menarik Amerika Serikat keluar dari konflik, ujar seorang pejabat senior Gedung Putih.
Masalah persediaan senjata ini kembali mencuat sebelum keputusan presiden akhir pekan lalu untuk membatalkan serangan baru terhadap Iran. Peristiwa ini menandai setidaknya kali kedua dalam beberapa pekan terakhir di mana penasihat militer senior Trump secara khusus menyuarakan kekhawatiran mengenai menipisnya jumlah amunisi utama AS dalam diskusi tentang potensi eskalasi konflik dengan Iran.
Pertanyaan mengenai persediaan amunisi ini sudah muncul sejak awal konflik. Dalam rapat-rapat saat itu, Trump membahas masalah ini dengan Hegseth setelah berbagai media memberitakan kekhawatiran tersebut. Kala itu, Hegseth meyakinkan presiden bahwa Pentagon sedang berupaya mengatasi masalah tersebut.
Bahkan sebelum konflik dimulai, Ketua Kepala Staf Gabungan (Joint Chiefs of Staff) Jenderal Dan Caine dan para pemimpin militer lainnya telah memperingatkan Trump bahwa kampanye militer yang berkepanjangan dapat berdampak pada persediaan senjata AS.
Sejak saat itu, Trump menyalahkan pemerintahan sebelumnya karena membiarkan persediaan senjata menipis, termasuk akibat pengiriman senjata ke Ukraina. "Kita memiliki banyak persediaan. Sejujurnya, saya ingin memiliki lebih banyak lagi, tetapi begitu banyak yang telah diberikan kepada Ukraina oleh Biden," ujar Trump kepada para wartawan di dalam pesawat Air Force One pada tanggal 27 Juli.
Pentagon telah lama mengkhawatirkan kemampuan industri pertahanan dalam memproduksi senjata dengan kecepatan yang memadai. Kekhawatiran tersebut kian diperparah oleh situasi perang yang melibatkan AS dan Iran, menyusul konflik di Gaza dan Ukraina yang membuat AS turut memasok senjata ke Israel dan Kyiv.
Pada Juli, Trump bertemu dengan para CEO perusahaan kontraktor pertahanan terkemuka di Gedung Putih, di mana pemerintahannya mendesak perusahaan-perusahaan tersebut untuk meningkatkan produksi senjata-senjata vital. Para peserta pertemuan mencakup Lockheed Martin, perusahaan yang memproduksi sistem pencegat THAAD maupun Patriot. Pertemuan serupa juga pernah diadakan pada bulan Maret, saat awal mula konflik tersebut.
Selain itu, Trump memberlakukan *Defense Production Act* (Undang-Undang Produksi Pertahanan) untuk mewajibkan perusahaan pertahanan memproduksi lebih banyak senjata pada bulan lalu. Dalam sebuah dokumen, ia menyatakan pandangannya bahwa terdapat kondisi-kondisi yang dapat menimbulkan ancaman langsung terhadap pertahanan nasional atau program kesiapsiagaan nasional.
Namun, langkah-langkah tersebut mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun dan kecil kemungkinannya dapat segera meningkatkan jumlah produksi.