Trump Sambut Kedatangan Xi Jinping di AS, Nasib Perang Dagang Jadi Sorotan

Instagram/whitehouse
Presiden Cina Xi Jinping menerima Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing, Kamis (14/5). Foto: Instagram/whitehouse.
24/9/2026, 14.50 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut Presiden Tiongkok Xi Jinping di Gedung Putih untuk pertemuan puncak kenegaraan yang megah pada Kamis (24/9). Acara ini diperkirakan akan lebih menonjolkan simbolisme daripada substansi, mengingat kedua pemimpin ingin menunjukkan hubungan yang stabil di tengah persaingan mendasar yang sengit.

Ini akan menjadi pertemuan kedua tahun ini antara para pemimpin dari dua ekonomi terbesar dunia, namun merupakan kunjungan pertama Xi ke Washington dalam lebih dari satu dekade.

Trump menyambut kedatangan Xi pada Rabu malam (23/9). Ini merupakan momen pertama kalinya seorang presiden AS menyambut pemimpin asing di Pangkalan Gabungan Andrews dalam 11 tahun terakhir (sejak Presiden Barack Obama menyambut Paus Fransiskus pada 2015), menurut C-SPAN, saluran yang memantau agenda kepresidenan.

Dalam pernyataan saat kedatangannya yang disiarkan oleh kantor berita Tiongkok, Xinhua, Xi mengungkapkan harapan akan hubungan yang lebih stabil dengan Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa Beijing dan Washington seharusnya menjadi "mitra, bukan pesaing" dan bahwa "logika sejarah tentang hidup berdampingan secara damai" antara kedua negara tidaklah berubah.

Bagi Trump, yang menyukai upacara dan sangat menghargai hubungannya dengan para pemimpin berpengaruh, kunjungan ini merupakan masalah prestise nasional sekaligus peluang untuk melakukan diplomasi tingkat tinggi.
Presiden AS tersebut ingin membalas sambutan megah yang ia terima di Tiongkok pada bulan Mei lalu dan memberikan kesan mendalam kepada Xi melalui upacara yang mencakup area South Lawn (halaman selatan) Gedung Putih, State Floor (lantai utama), dan Rose Garden (taman mawar).

Tidak ada terobosan besar yang diharapkan dari pertemuan ini. Para analis memperkirakan hasil nyata kemungkinan hanya terbatas pada perpanjangan gencatan senjata perdagangan yang akan berakhir pada bulan November, serta kesepakatan untuk mengkaji ancaman yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan (AI).

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada Fox News pada Rabu (23/9), usai pembicaraan dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng bahwa mereka telah sepakat untuk memperpanjang hingga 10 Januari sebuah kesepakatan yang menangguhkan perang dagang, di mana tarif timbal balik sempat melonjak hingga lebih dari 100%.

Sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan bahwa pembicaraan ini juga dapat menghasilkan kesepakatan untuk menurunkan sejumlah tarif, memerangi perdagangan narkoba, dan memperluas dialog antar-militer; sementara Trump diperkirakan akan mengupayakan pembebasan warga Amerika dan pihak lain yang ditahan di Tiongkok.

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Kurt Campbell mengatakan bahwa pertemuan puncak ini lebih merupakan kesempatan bagi dua pemimpin yang tegas untuk menunjukkan kekuatan mereka, ketimbang sebuah negosiasi yang bersifat substantif.

"Ini benar-benar merupakan reinkarnasi sejarah dari apa yang di masa lampau sering kita sebut sebagai duel satu lawan satu, sosok-sosok yang sangat tangguh, masing-masing mewakili peradaban mereka, saling mengukur kekuatan dan berhadapan langsung," ujar Campbell.

Menjaga Stabilitas Hubungan

Xi tampaknya berada dalam posisi yang lebih kuat, setelah memimpin lonjakan perdagangan Tiongkok dan menguasai pasokan mineral tanah jarang yang memberinya daya tawar yang besar.Kedua pemimpin melihat keuntungan dalam menjaga stabilitas hubungan; Trump sedang terperosok dalam perang Iran yang tidak populer, sementara Xi tengah bergulat dengan tantangan ekonomi domestik.

Namun, di balik permukaan, terdapat tantangan yang dapat memicu kembali ketegangan, termasuk sengketa mengenai Taiwan, pengendalian ekspor, dan kecerdasan buatan (AI). Taiwan, pulau yang diperintah secara demokratis dan diklaim oleh Tiongkok, merupakan isu yang paling memicu perdebatan di antara masalah-masalah tersebut.

Sekutu AS di Asia khawatir Trump mungkin tergoda untuk melunakkan dukungan Washington terhadap Taipei demi mengamankan keuntungan ekonomi bersama Tiongkok. Xi diperkirakan akan mendesak Trump untuk menghentikan penjualan senjata ke Taiwan, dan hal ini mungkin dilakukan saat kunjungan bersama keduanya ke Arsip Nasional AS pada Jumat, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters. Sebagai imbalannya, Tiongkok menawarkan bantuan untuk menekan Iran, tambah sumber-sumber itu.

Setelah pertemuan puncak bulan Mei, Trump mengatakan ia menunda paket penjualan senjata senilai sekitar 14 miliar dolar AS dan menyebutnya sebagai "alat tawar-menawar yang sangat bagus." Kedua pemimpin kemungkinan akan membahas perang Iran, namun hanya ada sedikit tanda bahwa Beijing bersedia menekan sekutunya agar memenuhi tuntutan AS, meskipun konflik tersebut telah mengganggu pasokan energi dan perdagangan.

Peluang Kesepakatan Dagang

Sektor perdagangan tampak lebih menjanjikan. Trump sedang mengupayakan pencapaian di bidang perdagangan menjelang pemilihan paruh waktu, dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer bulan ini mengatakan bahwa kedua negara akan membuat "sejumlah pengumuman terkait pertanian dan hambatan non-tarif.

Para analis berpendapat bahwa AI bisa menjadi bidang kerja sama, mengingat dampaknya terhadap keamanan nasional, daya saing ekonomi, dan kemampuan militer, serta adanya kekhawatiran bersama antara AS dan Tiongkok mengenai penyalahgunaan teknologi tersebut.

Bessent membahas AI dengan He Lifeng pada akhir pekan lalu, dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan ada gagasan awal mengenai "sesuatu yang setara dengan saluran komunikasi langsung (hotline) seperti yang kita miliki selama Perang Dingin" untuk menghindari insiden berbahaya yang "dapat berdampak pada ekonomi atau masyarakat, bahkan memicu konflik antarnegara." Namun, para analis mengatakan bahwa persaingan sengit di bidang AI kemungkinan akan membatasi ruang lingkup kesepakatan hanya sebatas hal-hal yang bersifat simbolis.

Daftar tamu untuk jamuan makan malam kenegaraan hari Kamis mencakup para CEO seperti Tim Cook dari Apple, Jeff Bezos dari Amazon, Sundar Pichaidari Alphabet, Sam Altman dari OpenAI, Elon Musk dari Tesla, dan Jensen Huang dari Nvidia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.