Trump Tolak Proposal Iran, Teheran Sebut Hanya Diplomasi yang Selesaikan Konflik

ChatGPT
Ilustrasi Negosiasi Iran dan AS
28/9/2026, 07.06 WIB

Iran menegaskan hanya diplomasi yang dapat menyelesaikan konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan itu dilontarkan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan penolakannya terhadap usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri permusuhan.

"Syarat-syarat kami jelas, dan setiap langkah untuk membuka kembali Selat Hormuz bergantung pada dipenuhinya syarat-syarat tersebut," tulis abbas di media sosial dikutip Senin (28/9).

"Hanya solusi melalui perundingan yang dapat membawa mereka keluar dari kebuntuan ini," katanya lagi.

Iran mengumumkan usulan perdamaian awal pekan ini di Sidang Majelis Umum PBB di New York, dengan menyatakan bahwa usulan tersebut telah disampaikan kepada pihak Amerika melalui mediator Qatar. Pada hari Sabtu, Trump menyatakan penolakannya terhadap rencana tersebut dan berpendapat bahwa desakan Iran untuk mencapai kesepakatan mengenai jalur perairan vital itu didorong oleh keputusasaan.

"Mereka ingin segera membuat kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz karena mereka sedang mengalami kekalahan telak," ujar Trump kepada para wartawan di Gedung Putih.

Terlepas dari pernyataan publik Trump, menurut Araqchi, para mediator yang memfasilitasi pembicaraan antara AS dan Iran belum secara resmi menyampaikan penolakan AS terhadap rencana tersebut.

"Kami sedang menunggu para mediator menyampaikan pandangan pasti mereka kepada kami, dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan hal tersebut," tulis Araqchi.

AS telah menerapkan blokade ekonomi terhadap Iran untuk menekan Teheran agar menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Serangan yang telah mengurangi lalu lintas pelayaran di wilayah tersebut secara drastis, meskipun Trump berulang kali menegaskan bahwa AS menguasai jalur perairan itu.

The Wall Street Journal adalah pihak pertama yang melaporkan penolakan Trump terhadap usulan Iran tersebut, dengan mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Laporan itu menyebutkan bahwa Trump secara pribadi meragukan Iran akan memenuhi tuntutannya dan telah mengatakan kepada stafnya bahwa ia memandang kemungkinan adanya kampanye pengeboman baru setelah pemilihan umum paruh waktu AS bulan November.

Sebelumnya, seorang pejabat AS mengatakan bahwa diskusi dengan Iran melalui mediator berlangsung "positif dan konstruktif."

Pihak Iran juga menjalin komunikasi dengan rival mereka, Arab Saudi, terkait Selat Hormuz. Hal ini menggarisbawahi besarnya taruhan dalam konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan tersebut, yang telah mengganggu aliran minyak melalui jalur pelayaran vital serta berdampak buruk pada ekonomi global.

Araqchi mengatakan kepada para wartawan di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Jumat bahwa kesepakatan yang diusulkan tersebut akan memicu hitung mundur tujuh hari menuju pembukaan kembali selat itu dan jeda dalam pertempuran di kawasan tersebut.

"Jika ada keseriusan dari pihak AS untuk mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz, segalanya kini telah siap," ujar Araqchi. 

Jika AS setuju, pihak-pihak yang bertikai dapat memulai pembicaraan yang lebih luas "mengenai topik-topik yang disepakati bersama." Hal itu berpotensi mencakup pembahasan mengenai program nuklir Iran. Trump telah menyatakan bahwa Teheran tidak boleh memiliki bom nuklir, sementara seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Iran tidak akan menunjukkan kelenturan terkait program nuklirnya meskipun AS menerima kesepakatan damai tersebut.

Iran tidak akan memberikan konsesi apa pun terkait hak-haknya, termasuk pengayaan uranium atau pengiriman uranium yang telah diperkaya tinggi ke luar negeri, kata pejabat tersebut.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam wawancara dengan acara CBS "Face the Nation," mengatakan bahwa Teheran siap untuk melakukan pembicaraan mengenai program nuklirnya dan isu-isu lainnya, namun tidak akan menerima "tindakan intimidasi atau paksaan."

"Iran tidak mencari perang, tetapi akan membela diri dari tekanan, ancaman, dan serangan," kata Pezeshkian, seraya menambahkan bahwa pihaknya telah menyepakati prinsip bahwa "kita tidak boleh mengembangkan senjata nuklir."

Upaya diplomasi sebelumnya gagal mengakhiri perang, yang bermula pada 28 Februari dengan serangan dari AS dan Israel.

Sejak saat itu, perang berlangsung secara bergantian antara masa jeda dan serangan lanjutan, menewaskan ribuan orang serta melemahkan kekuatan konvensional Iran dan merusak ekonominya yang memang sudah terpuruk.

Iran dan sekutunya telah membalas dengan memperluas konflik ke seluruh kawasan. Iran menyerang sekutu AS di kawasan Teluk menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal, sementara sekutu Houthi mereka di Yaman menargetkan kepentingan Arab Saudi.

Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menyatakan pada Sabtu dini hari bahwa mereka telah mencegat dua rudal balistik dan dua pesawat nirawak yang diluncurkan oleh kelompok Houthi ke arah kerajaan tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.