Menag: Menjaga Kerukunan Lebih Sulit Karena Hoaks di Media Sosial

ANTARA FOTO/Nalendra
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin
Penulis: Dimas Jarot Bayu
4/4/2019, 11.47 WIB

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai menjaga kerukunan lebih sulit saat ini. Banyak informasi di media sosial yang berpotensi mengganggu kerukunan masyarakat. Berbagai hoaks dan disinformasi yang beredar di media sosial kerap berbalut dengan isu SARA (suku agama ras dan antargolongan). Hoaks ini dapat memicu konflik di masyarakat.

"Kami sangat memahami bahwa menjaga kerukunan serta mengelola kehidupan keagamaan saat ini terasa lebih sulit," kata Lukman dalam Peringatan Isra Miraj Tingkat Kenegaraan di GOR Pandawa, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (3/4).

Meski demikian, Lukman menilai masyarakat Indonesia tak boleh menyerah dalam menjaga kerukunan. Komitmen tersebut harus tetap dilaksanakan demi kehidupan beragama dan bernegara yang kondusif. 

(Baca: Pilpres 2019 Lebih Keras, SBY Khawatir Masyarakat Terbelah)

Terlebih, menjelang Pilpres 2019 yang memunculkan adanya keberpihakan dan pilihan di antara masyarakat. Tanpa adanya komitmen menjaga kerukunan, keberpihakan dan pilihan itu dapat memunculkan polarisasi di tengah masyarakat. Hal tersebut pun dapat memicu konflik.

"Semua keragaman, keberpihakan dan pilihan haruslah dilakukan dalam semangat persatuan dan dalam bingkai NKRI," kata Lukman.

Lukman pun berharap peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW dapat menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia memperkuat komitmen persaudaraan. Melalui momentum ini, umat Islam dapat menjauhi perbuatan keji dan munkar.

(Baca: Jokowi: Intoleransi Sering Terjadi karena Pengaruh Politik)

Umat Islam pun dapat belajar berlaku adil kepada sesamanya. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Lukman menilai Indonesia harus memberikan contoh baik mengenai Islam kepada masyarakat global. Apalagi esensi ajaran Islam sesungguhnya adalah tentang perdamaian, keadilan, toleransi, moderat dan tidak bersikap ekstrem.