Proyek Train III Tangguh sampai saat ini masih terganjal minimnya calon pemakai gas. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut lebih dari setengah gas yang akan diproduksi belum mendapatkan pembeli.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi I.G.N. Wiratmaja Puja mengatakan BP Indonesia masih mencari pembeli gas untuk Train III Tangguh. Dari produksi gas 3,8 juta ton per tahun (million tons per annum/mtpa), baru 25 persen yang laku. “Gas train tiga yang belum terkontrak ada 75 persen,” kata Wiratmaja ketika berbincang dengan wartawan di Gedung Energi, Jakarta, Senin, 11 April 2016. (Baca: Tak Ada Pembeli Domestik, Proyek Train III Terancam Gagal).

Dia berharap gas yang belum laku bisa terserap untuk kebutuhan dalam negeri. Bahkan Kementerian Energi meningkatkan porsi untuk domestik dari target awal 40 persen. Kini, BP Indonesia harus menjual 70 hingga 75 persen gasnya ke dalam negeri. Alasannya, semakin banyak gas untuk domestik semakin bagus untuk pengembangan perekonomian dalam negeri. “Nanti siapa pembelinya, kami serahkan ke BP dan koordinasi ke Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas,” ujar dia.

Wirat mengatakan bisa saja PT Perusahaan Listrik Negara yang akan menyerap gas tersebut. Apalagi, di kawasan Papua akan dibangun pembangkit listrik tenaga gas (PLTG). Sebelumnya, PLN memang berencana membeli 40 persen gas tersebut. Namun Wirat belum mau mengatakan apakah PLN sudah menandatangani perjanjian jual beli gas dengan BP Indonesia. “Tunggu tanggal mainnya,” ujar dia.

Meski belum mendapat pembeli gas, Wirat yakin proyek tersebut bisa operasi pada pertengahan tahun ini. Pemerintah pun masih memiliki waktu untuk membangun infrastrukturnya. Dengan begitu, pembeli dalam negeri tidak memiliki kendala untuk menyerap sumber energi tersebut. (Baca: Dicari: Pembeli LNG Tangguh Train 3 Secepatnya).

Sementara,  BP Indonesia menyatakan sudah memiliki pembeli gas Kilang Tangguh Train III sebesar 65 persen dari total produksi. Government and Public Affair Manager BP Indonesia Budiman Moerdijat mengatakan pembeli dari luar negeri berasal dari Jepang, Kansai Electric Power yang berkomitmen membeli 1 mtpa atau sekitar 25 persen dari produksi. Sementara dari dalam negeri ada PLN yang berkomitmen memborong 1,5 mtpa setara 40 persen. 

Informasi itu juga sama dengan yang diperoleh Katadata. Seorang sumber di industri migas mengatakan PLN telah meneken perjanjian jual-beli gas pada pertengahan Desember 2015. Meski begitu, ada beberapa kendala yang masih menghadang untuk kelanjutan proyek. (Baca: BP: 65 Persen Gas Train 3 Tangguh Sudah Dikontrak Pembeli).

Pertama, belum ada bank yang menawarkan pinjaman dengan bunga kompetitif untuk membangun kilang. Kedua, kejatuhan harga gas seiring produksi baru beberapa blok di Afrika dan Amerika. Terakhir, memastikan ada pembeli unutuk sisa produksinya.

Reporter: Anggita Rezki Amelia