Kunjungan Turis Asing Turun pada Februari, Mayoritas Datang Berbisnis
Badan Pusat Statistik melaporkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Februari 2021 mencapai 117 ribu. Mayoritas turis asing datang ke Tanah Air untuk berbisnis.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto menyebutkan, angka kunjungan itu anjlok 14,74% dibandingkan Januari 2021 sebanyak 137.230 pada Januari 2021. "Jumlah tersebut juga menurun tajam 86,9% dari 872.765 pada Februari 2020," ujar Setianto dalam Konferensi Pers Perkembangan Pariwisata dan Transportasi Nasional Februari 2021., Kamis (1/4).
Jumlah kunjungan wisman pada Februari 2021, terdiri atas wisman yang berkunjung melalui pintu masuk udara sebanyak 7.110 kunjungan, pintu masuk laut sebanyak 34.556 kunjungan, dan pintu masuk darat sebanyak 75.334 kunjungan. Mayoritas wisman atau 64% masuk melalui pintu darat, disusul 30% dari pintu laut, dan 6% udara.
Berdasarkan pintu masuk udara, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia bulan Februari 2021 turun 98,74% dibandingkan dengan Februari 2020 sebanyak 562.150. Penurunan terjadi hampir di seluruh pintu masuk udara kecuali di Bandara Sam Ratulangi-Sulawesi Utara yang mengalami kenaikan sebesar 10,67%. Sebagian besar bandara mengalami penurunan 100%.
Namun jika dibandingkan dengan Januari 2021, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia melalui pintu masuk udara bulan Februari 2021 melonjak 310,75% dari 1.731. Persentase kenaikan tertinggi terjadi di Bandara Ngurah Rai-Bali sebesar 500%, diikuti oleh Bandara Soekarno-Hatta-Banten 381,26%.
Sementara kunjungan melalui pintu laut anjlok 82,06% jika dibandingkan Februari 2020. Penurunan drastis tercatat di seluruh pintu masuk laut dengan persentase sebesar 100% tercatat di Pelabuhan Tanjung Uban dan Pelabuhan Tanjung Pinang-Kepulauan Riau dan Pelabuhan Tanjung Benoa-Bali.
Penurunan jumlah kunjungan wisman yang datang melalui pintu masuk laut juga terjadi dibandingkan Januari 2021 mencapai 20,02% dari 43.207. Pelabuhan Tanjung Benoa, Bali menjadi pelabuhan dengan persentase penurunan tertinggi yakni 100%.
Kunjungan turis melalui pintu masuk darat juga turun 36,16% jika dibandingkan Februari 2020 yaitu 118.011 maupun Januari 2021 yang mencapai 18,37%. Persentase penurunan tertinggi secara tahunan terjadi di pintu masuk Nanga Badau-Kalimantan Barat 100%, sedangkan penurunan terbesar secara bulanan terjadi di pintu masuk Aruk-Kalimantan Barat 33,33%.
Wisman yang datang dari wilayah Timur Tengah memiliki persentase penurunan paling tinggi jika dibandingkan dengan Februari 2020, yaitu sebesar 97,54%. Jika dilihat berdasarkan kebangsaan, wisman yang datang ke Indonesia paling banyak berasal dari Timor Leste sebanyak 59 ribu kunjungan (51,07%), diikuti Malaysia 37 ribu kunjungan (32,01%), Tiongkok tiga ribu kunjungan (2,53%), Papua Nugini 2.500 kunjungan (2,14%), dan Belanda 2.100 kunjungan (1,82%).
Dalam dua bulan pertama tahun ini, jumlah kunjungan wisman mencapai 254.230 kunjungan atau turun sebesar 88,25% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun ini. Angka itu terdiri dari wisman yang berkunjung melalui pintu masuk udara sebanyak 8.841 kunjungan, pintu masuk laut sebanyak 77.763 kunjungan, dan pintu masuk darat sebanyak 167.626 kunjungan.
Di sisi lain, Setianto menuturkan, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia bulan Februari 2021 mencapai rata-rata 32,4%, turun 16,82 poin dibandingkan Februari 2020 49,22%. "Sebaliknya, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, TPK bulan Februari 2021 naik 2,05 poin dari 30,35%," katanya.
Ketua Umum Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa pengusaha hotel dan restoran masih menanggung beban berat akibat merosotnya kunjungan wisata selama pandemi. Sebab, banyak pengusaha yang memulai bisnisnya dari dana pinjaman bank. "Tanpa intervensi perbankan, kemungkinan akan terjadi gagal bayar yang sangat tinggi dan rentan kebangkrutan dari sektor pariwisata,” kata Hariyadi.
Direktur Utama Hotel Sahid itu pun mendukung program vaksinasi Covid-19 yang dijalankan pemerintah. Namun, ia juga meminta penambahan alokasi vaksin bagi pekerja hotel dan restoran.
Menurutnya, alokasi vaksin untuk anggota PHRI hanya sebanyak 93 ribu orang. Padahal, anggota PHRI yang terdaftar mencapai 122 ribu orang. "Ini kami mohon bisa dibantu agar segera kami selesaikan," ujarnya.