Hasto Kecam Penganiayaan Pendukung Ganjar, Soroti Netralitas Aparat
Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto mengutuk kekerasan yang terjadi pada relawan Ganjar Pranowo-Mahfud MD di Boyolali, Jawa Tengah.
Hasto juga berharap agar kejadian pengeroyokan itu menjadi pelajaran dan tak terjadi lagi ke depannya. Ia pun meminta agar aparat megara harus menjaga netralitasnya.
"Sehingga kami percaya TNI dan Polri sebagai institusi akan netral, hanya ada oknum-oknum yang memiliki loyalitas buta," kata Hasto dalam konferensi pers di Kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, Selasa (2/1).
Hasto juga mengatakan netralitas serta kedamaian pesta politik harus terus dijaga. Terlebih, tambah Hasto, bagi Panglima TNI dan Kapolri yang telah menandatangani deklarasi pemilu damai.
Buntut penganiayaan itu, PDIP telah menerjunkan tim bantuan hukum yang langsung melakukan advokasi. Sedangkan Ganjar Pranowo juga telah menjenguk para korban pada Minggu (31/12).
Penjelasan TNI
Kepala Penerangan Kodam IV/ Diponegoro Kolonel Richard Harison mengatakan peristiwa tersebut diduga dipicu oleh kesalahpahaman antara sejumlah prajurit TNI dengan dua korban.
Ia menjelaskan peristiwa itu bermula ketika sejumlah pengendara sepeda motor berknalpot bising melintas di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kabupaten Boyolali. Lokasi persisnya berada di depan markas Kompi B Yonif Raider 408/Sbh di Kabupaten Boyolali.
"Saat itu beberapa anggota TNI yang sedang bermain voli keluar gerbang untuk mencari tahu pengendara dengan knalpot bising tersebut," katanya di Semarang, Sabtu (30/12).
Ia mengatakan saat itu terdapat dua orang pengendara sepeda motor berknalpot bising sedang memainkan gas kendaraannya. "Kemudian oleh anggota dihentikan dan ditegur, namun terjadi adu mulut sehingga terjadi penganiayaan," katanya.
Menurut dia, Pangdam IV/ Diponegoro sudah memerintahkan Danyonif Raider 408/Sbh dan Komandan Denpom IV/4 Surakarta untuk memproses hukum seluruh anggota yang terlibat sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Bantahan Ganjar
Ganjar Pranowo sempat menjelaskan kronologi kejadian tersebut berdasarkan keterangan yang ia gali dari para korban. Mantan Gubernur Jawa Tengah itu sempat menjenguk korban pada Minggu (31/12).
Ganjar mengatakan korban hanya lewat untuk melintas di depan lampu merah markas Kompi B Yonif Raider 408/Sbh di Kabupaten Boyolali. Namun menurutnya, relawan tersebut diminta berhenti dan dipukul aparat TNI tanpa peringatan.
"Kalau dari (cerita) korban tidak ada (peringatan). Jadi saya ingin luruskan biar tidak ada bengkok-bengkok," kata Ganjar dalam keterangan tertulis.