Cerita Sri Mulyani Dana Abadi Pendidikan LPDP Bermula dari Rasa Minder

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/agr
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengikuti rapat tingkat menteri (RTM) di Jakarta, Selasa (8/7/2025).
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati
7/8/2025, 12.04 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pembentukan dana abadi pendidikan bermula karena rasa mindernya. Dana abadi tersebut telah tumbuh dari Rp 1 triliun pada 2009 menjadi sekitar Rp 154 triliun pada tahun ini.

Sri Mulyani Indrawati menceritakan pembentukan dana abadi pendidikan berakar dari pengalamannya saat menjabat pertama kali menjadi Menteri Keuangan pada 2006. Saat bertemu dengan Menteri Keuangan dari negara anggota Asean, Bendahara Negara mengaku kurang percaya diri setelah melihat sumber daya manusia di negara tetangga.

"Banyak orang Indonesia tidak mampu sekolah di universitas terbaik dunia saat itu. Bahkan sesama Menteri Keuangan di Asean, seperti Malaysia dan Singapura, mereka selalu bilang memiliki staf yang belajar di Harvard, Columbia, Stanford, dan London School of Economics," kata Sri Mulyani dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025, Kamis (7/8).

Sri Mulyani menyatakan dirinya memiliki minat untuk mengirimkan anak buahnya untuk belajar ke luar negeri sejak saat itu. Menurutnya, siswa di dalam negeri mampu masuk universitas terbaik di dunia, namun tidak memiliki biaya pendidikan.

Sri Mulyani melaporkan sebanyak 3.363 penerima manfaat Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP telah menjadi mahasiswa di tujuh universitas terbaik dunia, yakni:

  • 24 alumni Institut Teknologi Massachusetts
  • 63 alumni Universitas Oxford
  • 96 alumni Universitas Harvard
  • 72 Alumni Universitas Cambridge
  • 20 alumni Universitas Stanford
  • 78 alumni Universitas Berkeley, dan
  • 308 alumni Imperial College London

Di samping itu, Sri Mulyani memastikan 20% anggaran pendidikan dalam APBN setiap tahunnya tidak terbuang. Dengan demikian, lembaga pendidikan yang tidak dapat menghabiskan anggarannya akan mentransfer sisa anggaran ke rekening dana abadi pendidikan.

"Dulu sekolah-sekolah menghabiskan anggaran pendidikan dengan mengganti pagar atau mengecat sekolah karena tidak tahu bagaimana menghabiskan dana pendidikan," katanya.

Bendahara Negara mencatat dana abadi tersebut dibelanjakan dalam empat kategori, yakni pendidikan senilai Rp 126,12 triliun, penelitian senilai Rp 12,99 triliun, perguruan tinggi senilai Rp 10 triliun, dan kebudayaan senilai Rp 5 triliun.

Dalam Nota Keuangan RAPBN 2025 disebutkan, anggaran pendidikan juga mencakup anggaran program makan bergizi gratis yang menjadi jualan presiden terpilih Prabowo Subianto saat kampanye.Anggaran untuk program makan bergizi gratis tersebut sudah termasuk biaya makanan, distribusi, dan operasional Badan Gizi Nasional.

Adapun rincian anggaran pendidikan tahun depan, juga termasuk untuk bantuan pendidikan. Rencananya bantuan ini akan menyasar 53,3 juta penerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), 20,4 juta penerima Program Indonesia Pintar (PIP), dan KIP Kuliah.

Ada juga alokasi yang diperuntukkan untuk peningkatan kompetensi guru, dalam bentuk sertifikasi pada 163.762 guru, dan program 12.064 guru penggerak. Sementara itu, sebesar Rp 346,6 triliun dari seluruh anggaran pendidikan akan dialokasikan sebagai Transfer ke Daerah (TKD) untuk peningkatan sarana, fasilitas, bantuan pendidikan, dan tunjangan guru ASN di daerah.

Selain itu, Rp 25 triliun dari seluruh anggaran pendidikan akan dialokasikan untuk dana abadi yang akan disalurkan kepada pesantren, perguruan tinggi, pengembangan kebudayaan, serta keperluan penelitian.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief