Prabowo Berikan Arahan Tertutup di Konvensi Sains: Agar Tidak Dipolitisasi
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan tertutup saat menghadiri Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025 di Bandung pada hari ini, Kamis (7/8). Ia menjelaskan, hal tersebut dilakukan agar arahannya tidak dipolitisasi.
"Saya tutup sesi tadi ke publik agar saya bicara lebih bebas karena tidak ada potensi dipelintir atau dipolitisasi. Kami kan tadi bicara soal ilmu, sains, dan teknologi," kata Prabowo setelah mengunjungi acara tersebut
Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025 diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Seluruh peserta yang menghadiri acara tersebut harus menitipkan segala bentuk gawai ke bilik yang berada di luar area acara berlangsung.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mencatat, sebanyak 1.066 dari sekitar 2.200 peserta yang menghadiri konvensi tersebut merupakan peneliti unggul di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM. Pada kesempatan yang sama, hadir 401 rektor dan wakil rektor perguruan tinggi, 351 dosen STEM, dan 150 guru besar.
Brian berencana untuk menyusun peta jalan riset teknologi dengan seluruh peserta konvensi yang hadir selama tiga hari ke depan. Menurutnya, peta jalan ini dapat mempercepat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional.
Ia juga ingin memperkuat integrasi antara sains, kebijakan pemerintah, dan industri. Karena itu, Brian telah mengkurasi dan akan menunjukkan 400 hasil riset unggulan dari perguruan tinggi.
"Ini adalah kesempatan besar bagi kita semua untuk bersama-sama mengikuti tugas mulia, yakni memajukan bangsa, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untk kemajuan industri dan melahirkan sumber daya manusia unggul," kata Brian.
Berdasarkan data dari Oliver Wyman 2023, hanya 13% bisnis di Indonesia yang telah berada pada tahap adopsi AI advanced, walaupun lebih dari 80% bisnis mulai berinvestasi atau menggunakan AI dalam operasional.
Laporan tersebut juga menunjukkan, 50% karyawan di Tanah Air menggunakan AI setidaknya sekali dalam seminggu. Porsinya di atas rata-rata global 40% setiap minggu.
Survei Microsoft dan LinkedIn pada 2024 mencatat, sebanyak 92% pekerja Indonesia sudah memanfaatkan generatif AI dalam bekerja. Persentasenya juga di atas rata-rata global 75% dan Asia Pasifik 83%.
Menurut laporan McKinsey Global Institute pada 2023, AI diprediksi berkontribusi hingga US$ 13 triliun terhadap ekonomi dunia pada 2030. Angkanya setara dengan kenaikan rata-rata Produk Domestik Bruto atau PDB global 1,2% per tahun. Sementara itu, laporan PwC menyebutkan AI dapat memberikan dampak hingga US$ 15,7 triliun pada 2030.
Dari kedua prediksi tersebut, World Economic Forum alias WEF menyoroti AI sebagai kekuatan utama di era Revolusi Industri 4.0 yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan pekerjaan baru. Bank Dunia juga menilai AI bermanfaat bagi negara berkembang, karena berpotensi mengurangi kesenjangan digital dan mendorong inovasi di sektor vital seperti pertanian, kesehatan, dan pendidikan.