Chatib Basri Soroti Aksi Provokasi, Rhenald Kasali Minta Selesaikan Akar Masalah
Ekonom senior Chatib Basri turut menyuarakan kegelisahan atas aksi pembakaran dan penjarahan yang terjadi di tengah gelombang unjuk rasa yang terjadi sejak Senin (25/8) lalu.
Lewat akun media sosial instagram miliknya Chatib menyoroti dugaan provokasi yang mungkin terjadi di tengah aksi demonstrasi. Ia mengunggah ulang postingan cerita yang sudah dibagikan oleh lebih dari 53 ribu pengguna instagram.
“Butuh bensin yang banyak, perencanaan yang matang dan gerakan yang terorganisir untuk bisa membuat beberapa halte dan fasilitas umum terbakar serentak," bunyi unggahan Chatib seperti dikutip Minggu (31/8). Unggahan itu pun menyebut aksi provokasi sebagai cara lama yang biasa digunakan para provokator untuk memecah aksi.
Kerusuhan di sejumlah kota di Indonesia meluas dalam dua hari terakhir setelah meninggalnya seorang pengemudi ojek online Affan Kurniawan pada Kamis (28/8) malam akibat arogansi kepolisian. Affan meninggal setelah ditabrak dan dilindas kendaraan taktis (rantis) milik kepolisian yang membubarkan massa aksi.
Kematian Affan menyulut kekecewaan masyarakat dan membuat kemarahan meluas. Terakhir massa menjarah rumah beberapa tokoh di antaranya rumah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Ahmad Sahroni, Politus Partai Amanat Nasional Eko Patrio, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kerusuhan juga meluas ke beberapa kota seperti Surabaya, Makassar dan Lombok.
Berkaitan dengan kerusuhan dan eskalasi kekerasan yang meningkat, sejumlah tokoh organisasi masyarakat juga telah menyuarakan pendapat. Pernyataan dari 16 ormas islam disampaikan setelah menggelar pertemuan dengan presiden Prabowo Subianto pada Sabtu (30/8).
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa forum ini menjadi ruang dialog terbuka antara Presiden dan para pimpinan ormas. Mereka sepakat untuk saling bahu-membahu menjaga ketenangan masyarakat.
"Insyaallah, bersama Presiden Prabowo Subianto di bawah pemerintahan beliau, dengan dukungan para pemimpin umat, bersama-sama kita bisa mengatasi tantangan apa pun,” ujar Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam keterangannya, Sabtu (30/8).
Selesaikan Akar Masalah
Sementara itu, guru besar Universitas Indonesia di bidang manajemen yang memiliki perhatian terhadap isu sosial kemasyarakatan mengatakan perlu ada aksi nyata dari pemerintah untuk memastikan keamanan dan ketertiban kembali berjalan. Menurut Rhenald tindakan cepat dan tepat perlu dilakukan untuk meredam kemarahan masyarakat.
Rhenald mengatakan aksi unjuk rasa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir merupakan akumulasi dari kemarahan masyarakat atas berbagai kebijakan dan sikap pemerintah baik di eksekutif dan legislatif. Ia mencontohkan adanya kenaikan pajak di beberapa daerah, dan munculnya pernyataan kontroversial dari legislatif yang tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat.
Di sisi lain himpitan ekonomi masyarakat meluas yang ditandai dengan meningkatnya pengangguran, Ada pula persoalan kelangkaan dan naiknya harga beras di pasar.
Ia juga menyoroti kebijakan instan yang diambil pemerintah untuk menyelesaikan masalah seperti pembekuan rekening masyarakat demi alasan pemberantasan judi online. Rhenald pun meminta pemerintah dan legislatif melakukan evaluasi dan tidak hanya fokus memadamkan aksi unjuk rasa.
“Kenapa tidak diselesaikan persoalan di akar, tidak bisa hanya dengan permintaan maaf. ada kesenjangan para elit politik dan masyarakatnya.Kalau persoalan tidak diselesaikan di akar maka akan terjadi eskalasi masalah,” ujar Rhenald seperti dikutip Minggu (31/8).
Untuk bisa mengembalikan situasi ketertiban dan keamanan, ia meminta penegak hukum bisa menjalankan tugas dengan lebih baik dan berpijak pada kepentingan masyarakat luas. Selain itu ia mendesak adanya pertanggungjawaban dari pemerintah atas situasi yang berkembang.