Cerita Pelari Rasakan Keseruan Wondr Jakarta Running Festival 2025

ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/rwa.
Ondel-ondel menyemarakkan Wondr Jakarta Running Festival 2025 di Jakarta, Sabtu (25/10/2025). Lomba lari yang diikuti sekitar 27.300 peserta dari 48 negara dengan kategori junior dash, 5K, 10K, half marathon dan marathon tersebut untuk mempromosikan Jakarta sebagai kota destinasi olahraga serta pariwisata yang menarik, aman dan nyaman.
Penulis: Andi M. Arief
25/10/2025, 12.12 WIB

Para peserta kategori half marathon dalam Wondr Jakarta Running Festival 2025 mengungkapkan rasa nyaman atas ajang tersebut. Perlombaan lari sekitar 21 kilometer tersebut bahkan dinilai lebih baik dari ajang yang sama di Negeri Jiran.

Rasa nyaman salah satunya disampaikan Ku Muhammad Nur Azmi (33). Meski  tampak tertatih sambil telanjang kaki melewati garis finish JRF sekitar pukul 08.00 WIB, pekerja di industri teknologi di Malaysia tersebut menyelesaikan half marathon sekitar 3 jam sejak pukul 05.00 WIB.

Azmi mengatakan penampilannya di JRF bukan performa terbaiknya lantaran baru kembali berlari setelah vakum selama 3 tahun terakhir. Walau demikian, Azmi menilai fasilitas dan atmosfer dalam JRF jauh lebih baik dari ajang marathon di negaranya.

Pengaturan JRF cukup baik, bahkan lebih baik dari The Kuala Lumpur Standard Chartered Marathon. Perbedaan yang menonjol adalah energi para peserta dan kualitas perlengkapan yang didapatkan peserta," kata Azmi kepada Katadata.co.id, Sabtu (25/5).

Azmi menyampaikan titik air minum yang disediakan dalam JRF cukup banyak. Selain itu, Azmi mengaku tidak memiliki masalah dengan tingginya tingkat polusi di Jakarta saat berlari dalam JRF.

Berdasarkan data AQI.in, kualitas udara di Jakarta berada di zona kuning atau di angka 72 pukul 05.00 WIB. Namun kualitas udara di Ibu Kota terpantau membaik menjadi 55 pukul 06.00 WIB.

Alexander Pavlichenko (39) mengatakan kualitas udara di Jakarta bukan yang terbaik di dalam negeri. Namun wisatawan asing asal Rusia ini menilai pelaksanaan JRF cukup baik akibat teraturnya pengaturan lalu lintas selama acara.

"Tidak ada mobil dan sepeda motor, saya hanya melihat pelari yang menggunakan jalan selama acara," kata Alexander.

Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menutup lima jalan utama di kawasan Jakarta Pusat dan mengubah 13 rute Transjakarta dalam mendukung JRF 2025. Penyesuaian jalan tersebut dilakukan hingga pukul 09.30 WIB pada hari ini, Sabtu (25/10), untuk mendukung ajang tersebut.

Alexander mengaku JRF menjadi ajang half marathon pertamanya. Aspek yang diperhatikan Alexander dalam JRF adalah tersedianya makanan, minuman, dan spons basah di sepanjang rutenya.

Namun Alexander menilai waktu pelaksanaan half-marathon dalma JRF terlalu pagi. "Waktu start memang cukup pagi, tapi cuaca saat acara berlangsung cukup baik," katanya.

Jayanti Mora (37) menyatakan waktu pelaksanaan half-marathon dalam JRF 2025 terlalu pagi, sebab peserta wajib berada di garis start pukul 04.30 WIB. Karena itu, Jayanti menyampaikan sebagian peserta half-marathon JRF telah memenuhi Gelora Bung Karno sekitar pukul 03.00 WIB.

Akibat paginya agenda tersebut, Jayanti menemukan banyak nomor dada peserta JRF yang dibuang di sepanjang rute.  Pegawai di perusahaan properti ini menduga bib yang berserakan di jalan sebelumnya dimiliki oleh peserta yang terlambat hadir di garis start karena pengalihan jalan.

"Karena semua jalan utama menuju GBK ditutup mulai 03.30 WIB, jadi kami datang lebih pagi agar tidak terhalang. Namun secara keseluruhan acara ini sudah baik," kata Jayanti.

Jayanti bahkan menempatkan JRF 2025 sebagai ajang half-marathon keempat di dalam negeri. Adapun perlombaan half-marathon terbaik menurutnya adalah BTN Jakarta International Marathon, ajang itu diikuti oleh Bank Jateng Borobudur Marathon dan Maybank Bali Marathon.

Selain waktu mulai yang terlalu pagi, Jayanti mengatakan JRF tidak masuk dalam posisi tiga besar karena diadakan pada hari Sabtu. Menurutnya, mayoritas ajang lari diadakan pada hari Minggu untuk menyesuaikan waktu persiapan yang dibutuhkan pekerja kantoran.

"Jakarta International Marathon diikuti lebih banyak pelari karena diadakan pada hari Minggu. Peserta JRF lebih sedikit karena pekerja kantoran masih harus bekerja pada Jumat dan tidak memiliki waktu persiapan yang cukup untuk berlari pada hari Sabtu," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief