Dua Mesin Baru Dorong Ekonomi 2026, MBG Jadi Katalis

ANTARA FOTO/Anis Efizudin/YU
Pekerja menata menu makanan saat proses pemorsian di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tambakrejo, Purworejo, Jawa Tengah, Kamis (13/11/2025). SPPG yang dikelola oleh Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Purworejo tersebut menerapkan prosedur ketat dan terperinci dalam melaksanakan program makan bergizi gratis (MBG) guna mendukung pembentukan generasi penerus bangsa yang sehat dan cerdas.
17/11/2025, 15.43 WIB

Indonesia memasuki 2026 dengan optimisme baru. Riset terbaru BRI Danareksa Sekuritas menggambarkan arah ekonomi nasional yang kian solid, didorong oleh dua mesin utama: konsumsi yang tetap tangguh dan investasi yang terus memperbesar kapasitas ekonomi.

Keduanya diyakini menjadi kombinasi penting untuk menjaga pertumbuhan di atas 5% secara berkelanjutan—level krusial bagi masuknya modal asing jangka panjang.

Selama hampir dua dekade, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 57% dari PDB dan relatif stabil meski ekonomi menghadapi tekanan global. “Kekuatan konsumsi menjadi jangkar pertumbuhan Indonesia,” tulis tim riset BRI Danareksa, seperti disampaikan ke Badan Komunikasi Pemerintah (17/11).

Namun riset mencatat perubahan struktur, yakni kontribusi konsumsi mulai menurun, sementara investasi terus meningkat, mengarah pada model ekonomi yang lebih produktif.

Investasi: Mesin Kedua yang Efeknya Lambat, tapi Panjang

Berbeda dari konsumsi yang memberi dorongan cepat, investasi bekerja bertahap. Model fiskal dalam riset ini menunjukkan kenaikan 1 poin persentase investasi hanya mengerek PDB sekitar 0,1 poin pada kuartal pertama, namun efeknya memuncak setelah 7–8 kuartal dan dapat bertahan lebih dari tiga tahun.

“Investasi memang tidak memberikan lompatan instan, tetapi ia membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang,” tulis laporan tersebut. Arah ini sejalan dengan fokus pemerintah pada infrastruktur, hilirisasi, dan diversifikasi FDI, termasuk di ekosistem EV dan baterai.

MBG Jadi Pemantik Baru Tahun Depan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut sebagai salah satu katalis tambahan untuk 2026. Riset BRI Danareksa menilai program ini memberi dua manfaat: menurunkan beban konsumsi harian rumah tangga dan mendorong peningkatan kualitas SDM melalui perbaikan gizi jangka panjang. Kendati demikian, riset memberi peringatan bahwa “risiko inflasi bisa muncul bila suplai pangan tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan”.

Di sisi eksternal, volatilitas pasar Indonesia masih dipengaruhi kebijakan The Fed. Probabilitas pemangkasan suku bunga Desember 2025 turun ke 44%, menjaga yield global tetap fluktuatif. Rupiah melemah tipis 0,11% ke Rp16.704 per dolar, sementara Credit Default Swap (CDS) Indonesia turun ke 75 bps, menandakan stabilnya persepsi risiko.

Riset ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara konsumsi dan investasi. Konsumsi diperlukan untuk stabilitas sosial dan daya beli, sementara investasi menjadi syarat mutlak untuk memperbesar kapasitas ekonomi.

“Menjaga keseimbangan antara dukungan jangka pendek dan prioritas jangka panjang adalah kunci untuk mempertahankan momentum pertumbuhan,” tulis BRI Danareksa.

Dengan konsumsi yang tetap kokoh, arus investasi yang meningkat, program MBG yang mulai bergulir, serta reformasi struktural yang berjalan, 2026 berpotensi menjadi tahun saat dua mesin pertumbuhan Indonesia melaju bersamaan dengan lebih cepat, lebih sehat, dan lebih produktif.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.