Kemendag Perluas Pasar Ekspor Jasa dari SMK di Kudus

dok. Djarum Foundation
Mendag Budi Santoso mengamati karya busana siswi di SMK NU Banat, Kudus, Kamis (12/32026).
Penulis: Arif Hulwan
14/3/2026, 07.00 WIB

Kudus -- Potensi perluasan peluang pasar ekspor jasa, terutama di bidang ekonomi kreatif, dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kudus, Jawa Tengah, makin menguat menyusul tiga program dari Kementerian Perdagangan. Kehidupan warga lokal dan guru berpeluang terangkat.

Hal ini diungkap Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam kunjungannya ke tiga sekolah yang bermitra dengan Djarum Foundation; SMK Raden Umar Said (RUS), SMK NU Banat, dan SMK Wisudha Karya, di Kudus, Kamis (12/3/2026).

Lawatan ini juga turut dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Bupati Kabupaten Kudus Sam’ani Intakoris, dan Wakil Bupati Kabupaten Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton.

Melihat keseriusan transformasi pendidikan yang dilakukan SMK-SMK ini, Budi Santoso alias Busan berkomitmen untuk memfasilitasi pembukaan koneksi sekolah dan industri setidaknya lewat dua jalur.

Pertama, dalam hal industri animasi, Mendag menyediakan fasilitas berupa pertemuan dengan 46 Perwakilan Dagang (Perwadag) Indonesia di luar negeri (terdiri dari Atase Perdagangan (Atdag) dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC)), yang tersebar di 33 negara.

Pada rapat yang rencananya digelar secara daring itu, SMK RUS nantinya bisa mempresentasikan produk animasi agar bisa dipasarkan ke lebih banyak negara.

"Perwakilan kita yang 46 itu kita kumpulkan. Sekolah [nanti] presentasi produknya apa. Kalau enggak tahu produknya [Perwadag] enggak bisa jualan. Tugas mereka jualan. Nah, kita ada namanya business matching. Ketika sudah tahu produknya mereka akan jalan, nyari pasarnya," tutur Busan.

Kedua, dalam hal industri fashion, Mendag mengundang siswa SMK tersebut untuk bisa mempresentasikan karya di Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW), gelaran fashion tahunan yang mempertemukan desainer dan industri.

Dia juga berkomitmen menghubungkan SMK dengan asosiasi retail modern. Tujuannya, membuka peluang menghadirkan produk busana di SMK NU Banat untuk hadir di mal.

"Tapi syaratnya memang produknya juga bagus dan sudah diakui. Jangan sampai kita kalah dengan desain asing yang ada di mal-mal, tapi lama-lama harus kita geser, kita isi," kata Busan.

Alasan Fokus ke Luar Negeri

Program Manager Djarum Foundation Galuh Paskamagma menjelaskan pihaknya memang fokus mengirim para siswa dari 20 SMK mitra di Kudus dan karya-karya mereka ke luar negeri.

Selain karena menargetkan para lulusan mendapat gaji yang sangat layak, Djarum Foundation juga realistis dengan kondisi industri. Bahkan di banyak tempat, lulusan SMK mitra banyak yang bisa menghasilkan gaji hingga empat kali Upah Minimum Regional (UMR) kota tempat mereka bekerja.

"Pasar dalam negeri luas juga, tapi kayaknya kita bermimpi untuk punya target yang lebih besar, lebih baik lagi. Industri animasi di Indonesia bagus, tapi di luar negeri peluang juga sangat besar" urainya.

Tidak tiba-tiba, target tinggi itu ditetapkan setelah menjalin kemitraan dengan 20 SMK di Kudus selama 15 tahun. Pihaknya menyediakan sistem yang memungkinkan pengajar mendapat pelatihan dari praktisi industri global, sarana belajar yang canggih dan nyaman, hingga pembelajaran berbasis teaching factory.

Galuh pun mengaku tetap optimistis di tengah kondisi Neraca Jasa 2025 yang masih dalam kondisi negatif (minus US$19,823 miliar).

"Karena kita percaya industrinya sekarang juga semakin meningkat, lalu kita punya talenta-talenta muda yang luar biasa, [ada] bantuan dari kementerian juga," kata dia

Kemandirian Mengubah Nasib

Teaching factory itu menjadi alternatif dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk bersaing di industri dengan tingkat kompetitif yang terus meningkat pesat dewasa ini. Galuh mengungkap pendekatan tersebut bisa membuat satu sekolah menghasilkan hingga lebih dari Rp12 miliar setiap tahun.

Pasalnya, teaching factory memungkinkan siswa mendapat proyek nyata, termasuk dari luar negeri, saat masih bersekolah. Bentuk konkretnya, misalnya, adalah studio animasi yang diampu oleh praktisi industri. Pengampu yang mendapat berbagai project dari industri luar negeri lantas menyalurkannya kepada para siswa.

Pendapatan sekolah yang sebesar itu digunakan terutama untuk meningkatkan kompetensi para guru, menyejahterakan dan menggaji mereka dengan layak. Hal itu akan meminimalisasi kemungkinan para guru terlatih memilih masuk industri karena tawaran penghasilan yang lebih menarik.

Dengan sistem teaching factory itu pula, siswa sudah terbiasa dalam lingkungan industri dan terasah kompetensinya. Pekerjaan-pekerjaan itu pun bakal menjadi portofolio mereka saat nanti masuk dunia kerja.

"Sekolah ini (SMK RUS) terkenal sekolah yang datang jam 8 [pagi] pulangnya nunggu diusir sama gurunya, Pak. Kadang anak-anaknya enggak mau pulang karena asik ngerjain project-project dari industri tadi," cerita Galuh.

Maka tak heran, saat lulus, para siswa itu kebanyakan terserap di industri yang bonafide dan mendapat gaji besar melampaui lulusan sarjana.

Galuh berharap semakin banyak contoh lulusan metode teaching factory yang sukses. Tujuannya, membuat para orang tua terinspirasi untuk tak membatasi mimpi-mimpi anak.

“Pendidikan itu tanggung jawab semua orang dalam komunitas, utamanya keluarga. Sistem yang terukur dan baik, serta dukungan positif dari keluarga akan mampu mendorong siswa untuk lebih terpicu menorehkan prestasi,” tutup Galuh.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.