Siapa Ali Larijani? Sosok Penting Iran yang Gugur dalam Serangan Israel

ANTARA FOTO/Ahmad Naufal Oktavian/dr/YU
Pengunjuk rasa mengikuti aksi solidaritas terhadap Republik Islam Iran dan penghormatan bagi Ayatollah Ali Khamenei di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Senin (9/3/2026). Aksi yang diikuti berbagai organisasi yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Zionis tersebut digelar sebagai bentuk kecaman terhadap serangan militer AS dan Israel ke Iran.
18/3/2026, 09.19 WIB

Politikus sekaligus anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani tewas dalam serangan Israel pada Selasa (17/3). Pemerintah Iran mengumumkan kabar tersebut pada Selasa malam, hanya beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan Larijani, 67 tahun, tewas dalam serangan semalam di tengah konflik AS-Israel melawan Iran.

Mengutip Al Jazeera, sebelum meninggal Larijani yang menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran terakhir tampil di publik saat parade Hari al-Quds di Teheran. Ia menjadi pejabat Iran dengan posisi tertinggi sejak kematian Khamenei pada 28 Februari.

Selama kariernya, Larijani dikenal sebagai figur pragmatis yang aktif dalam negosiasi nuklir dengan Barat dan juga menulis tentang filsuf Immanuel Kant. Namun, sikapnya berubah usai serangan yang menewaskan Khamenei dan komandan IRGC Mohammad Pakpour.

Dalam pernyataannya di televisi pemerintah, Larijani menyampaikan sikap keras terhadap Amerika Serikat dan Israel dan menegaskan Iran akan memberikan balasan. Ia juga pernah menyebut Presiden AS Donald Trump terjebak dalam “perangkap Israel”.

Seperti apa profil Ali Larijani dan bagaimana kiprahnya di pemerintahan Iran? 

Pemimpin keamanan Iran Ali Larijani. (X/alilarijani_ir)

Profil Ali Larijani

Mengutip Al Jazeera, Ali Larijani memegang peran kunci dalam merumuskan respons Iran di tengah krisis terbesar sejak 1979 dan turut terlibat dalam dewan transisi pascakematian Ali Khamenei.

Larijani lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga kaya asal Amol, Iran. Ia berasal dari keluarga berpengaruh. Bahkan pada 2009 dijuluki majalah Time sebagai “Keluarga Kennedy-nya Iran”. Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, merupakan ulama terkemuka, sementara saudara-saudaranya juga menduduki posisi penting di bidang peradilan dan Majelis Ahli.

Tak hanya itu, ia memiliki kedekatan dengan elite revolusioner Iran. Pada usia 20 tahun, Larijani menikahi Farideh Motahari, putri Morteza Motahhari, penasihat dekat pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.

Apabila melihat pendidikannya, Larijani menempuh jalur akademis sekuler. Ia meraih gelar sarjana Matematika dan Ilmu Komputer dari Universitas Teknologi Sharif pada 1979, lalu melanjutkan studi filsafat Barat di Universitas Teheran hingga meraih doktor dengan tesis tentang Immanuel Kant.

Karier politiknya dimulai setelah Revolusi 1979 saat ia bergabung dengan IRGC pada awal 1980-an. Ia kemudian beralih ke pemerintahan, menjabat sebagai menteri kebudayaan di era Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani, dan memimpin lembaga penyiaran negara IRIB pada 1994–2004.

Larijani kemudian menjabat Ketua Parlemen (Majlis) selama tiga periode berturut-turut pada 2008–2020 dan berperan besar dalam pembentukan kebijakan, termasuk mengawal persetujuan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA). 

Ia juga pernah menjadi sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan kepala negosiator nuklir sebelum mengundurkan diri pada 2007 akibat perbedaan pandangan dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Setelah tidak lagi menjabat pada 2020, Larijani sempat mencoba maju dalam pemilu presiden 2021 dan 2024, namun didiskualifikasi oleh Dewan Penjaga. Analis menilai langkah itu membuka jalan bagi Ebrahim Raisi.

Larijani kembali ke lingkaran kekuasaan pada Agustus 2025 setelah Presiden Masoud Pezeshkian menunjuknya kembali sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Sejak itu, sikapnya dinilai semakin keras, termasuk saat ia dilaporkan membatalkan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Oktober 2025.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila